Kapal ASDP Andalan Masyarakat di Kepulauan Mentawai

ASDP KMP Gambolo

KMP Gambolo milik PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersandar di Pelabuhan Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

PADA saat cuaca buruk dan gelombang laut tinggi merupakan hari-hari yang menegangkan di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Dalam kondisi seperti itu, aktivitas di kabupaten kepulauan terluar yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia di barat pulau Sumatera itu nyaris lumpuh.

Jika pegawai pemerintah, masyarakat, atau wisatawan nekad menempuh perjalanan laut, taruhannya adalah keselamatan jiwa.

Masalahnya, sebagai daerah kepulauan dengan empat pulau besar berpenghuni yang terpisah, transportasi laut merupakan moda utama dan vital. Transportasi laut juga menghubungkan keempat pulau serta dengan Tuapeijat, ibu Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kota Padang, ibu kota Provinsi Sumatera Barat.

Bagaimana jika pada saat kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi itu terjadi situasi “emergency” atau gawat darurat?

Pada saat seperti itulah kehadiran kapal ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan) sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan aparat pemerintah daerah. Kehadirannya tidak tergantikan oleh kapal lain, seperti kapal cepat regular milik swasta, kapal dinas milik Pemkab Mentawai, maupun kapal carteran milik warga.

Kapal ASDP ini sangat penting mengangkut pasien dalam kondisi badai seperti ini,” kata dr. Steven De Nachs, dokter RSUD Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai kepada Uggla.id.

Dokter Steven bicara pada Selasa, 15 Juli 2025. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Sebelumnya, BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) memperingatkan ada badai dan gelombang tinggi yang diperkirakan mencapai 1,5 meter hingga 4 meter di perairan Kepulauan Mentawai hingga tiga hari ke depan.

Lampiran Gambar
Kapal Ambu-Ambu memasuki Pelabuhan Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, 15 Juli 2025. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Perahu nelayan dan kapal tongkang pemasok BBM (Bahan Bakar Minyak) dilarang berlayar. Juga kapal Mentawai Fast, kapal cepat yang membawa penumpang trayek Padang dan antarpulau di Kepulauan Mentawai.

Dalam kondisi seperti itu musibah terjadi pada Senin, 14 Juli 2025. Sebuah perahu bermesin tempel 40 PK milik warga tenggelam di Selat Sipora. Sebelum tenggelam, perahu itu memaksa menempuh laut yang bergelora dari Sikakap di Pulau Pagai Utara menuju Tuapeijat di Pulau Sipora. Penumpangnya melebihi kapasitas, yang seharusnya dalam cuacana normal hanya 10 orang malah diisi 18 orang.

Untungnya setelah tim SAR dikerahkan hingga malam, semua penumpang akhirnya selamat. Sebemum tim SAR tiba, para penumpang telah penyelamatkan diri dengan berenang selama 10 jam ke daratan terdekat di Dusun Mapinang, masih di Pagai Utara. Lalu tim SAR mengevakuasi semua korban ke RSUD Tuapeijat di Tuepeijat.

“Semua korban sudah banyak menelan air laut dan pasir, jadi harus dirawat,” kata dr. Steven De Nachs yang menangani mereka.

Para korban bisa ditangani di RSUD Tupeijat, kecuali satu orang.

“Satu pasien harus dirujuk karena rusuknya patah terbentur perahu, selain itu juga mengidap asma, kami tidak bisa menanganinya di RSUD,” ujarnya.

Rumah sakit rujukan berada di Kota Padang, yaitu RSUP Dr. M. Djamil, Padang. Biasanya pada saat cuaca cerah dan gelombang normal, RSUD Tuepeijat membawa pasien rujukan dengan kapal cepat Mentawai Fast yang jadwalnya empat kali seminggu.

Jika tidak ada jadwal kapal cepat, pasien dibawa dengan Ambulans Laut, perahu milik Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Tapi saat itu gelombang tinggi dan kapal Mentawai Fast sudah tiga hari urung berlayar. Kapal itu masih bersandar di Pelabuhan Tuapeijat. Sedangkan Ambulans Laut  Dinas keehatan sangat tidak memungkinkan dibawa melayari samudera.

Lampiran Gambar
Seorang pasien korban perahu tenggelam di selat Sipora diturunkan dari KMP Ambu-Ambu setibanya di Pelabuhan Bungus, Kota Padang untuk dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil, Padang, 16 Juli 2025. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Untunglah dalam kondisi seperti itu, Kapal KMP Ambu-Ambu, kapal feri milik ASDP tetap berlayar dari Pelabuhan Bungus, Kota Padang dan merapat di Pelabuhan Tuapeijat pada pukul 08.00 WIB, Selasa, 15 Juli 2025.

Dua jam menjelang KMP Ambu-Ambu berangkat ke Padang, dr. Steven De Nachs memandu beberapa perawat mengantarkan pasien laki-laki berusia 30-an itu ke atas kapal. Mobil ambulans langsung naik ke kapal melewati rampa buritan.

“Karena tulang rusuknya patah, harus hati-hati memindahkannya,” kata dokter Stevan.

Pasien itu digotong dengan tandu oleh beberapa pria menaiki tangga kapal yang kecil ke lantai dua menuju kamar khusus pasien.

Senja itu, penumpang antre berderet panjang bak ular di depan loket ASDP. Barang-barang juga silih berganti diangkut ke kapal. Mereka terlihat lega akhirnya bisa berlayar ke Padang, meski 12 jam di perjalanan atau lebih lama dibanding Mentawai Fast yang cuma 3,5 jam.

Andalan Mengarungi Samudera

Jika KMP Ambu-Ambu tidak berlayar mengarungi Samudera Hindia yang sedang bergelora, tentu pasien rujukan itu harus menunggu tiga hari kemudian setelah Mentawai Fast bisa berlayar.

Itu waktu yang lama untuk penanganan pasien darurat. Namun begitulah kondisi di Kepulauan Mentawai. Fasilitas RSUD Tuepeijat masih terbatas. Dokter bedah saja mereka tidak punya.

Yang paling menyedihkan jika pasien dirujuk dari puskesmas di salah satu pulau lain, seperti Pulau Pagai Utara, Pulau Pagai Selatan, atau Pulau Siberut. Dari puskesmas mereka mesti dibawa berlayar ke Tuepeijat yang berada di Pulau Sipora. Jika RSUD Tuepeijat tak bisa menangani, pasien itu lalu dirujuk ke Padang.

Jika penanganan pasien ini terjadi pada saat musim badai dan gelombang tinggi, si pasien tidak bisa dibawa dengan perahu atau kapal cepat Mentawai Fast yang juga melayani antarpulau.

Satu-satunya yang mereka andalkan hanyalah dua kapal ASDP yang rutin melayani Mentawai, yaitu KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo. Menariknya, khusus untuk pasien dan seorang pendampingnya disediakan tiket gratis oleh kedua kapal ASDP ini.

Kehadiran kapal-kapal feri milik ASDP melayani masyarakat di Kepulauan Mentawai ini tentu tidak hanya terasa dalam kondisi “emergency” ketika kapal cepat atau perahu tempel antar pulau tak bisa beroperasi. Tetapi lebih dari itu.

Lampiran Gambar
Geladak KMP Gambolo milik ASDP di depan Pulau Pagai Utara. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Bagi saya yang sering melakukan liputan dari Padang ke Kepulauan Mentawai, kehadiran kapal-kapal feri milik ASDP ini sungguh sangat membantu. Juga memberikan kesan tersendiri.

Pada Selasa, 15 Juli 2025 itu saya sangat bersyukur ada KMP Ambu-Ambu yang berani berlayar di tengah gelombang besar menuju Padang.

Saya berangkat ke Tuapeijat pada Rabu, 9 Juli 2025 dengan kapal cepat untuk melakukan liputan tiga hari. Saya berencana kembali dengan kapal cepat pada Jumat, 11 Juli 2025. Ternyata hari itu kapal cepat membatalkan jadwal berangkat ke Padang karena peringatan gelombang tinggi dan badai.

Jadwal keberangkatan kapal berikutnya adalah Minggu, 13 Juli. Tapi juga ada pengumuman kapal tidak bisa berangkat karena gelombang masih tinggi. Jadwal berikutnya pada Senin, 14 Juli juga dibatalkan. Maka terkatung-katunglah saya di hotel dekat Pelabuhan Tuepeijat dan terpaksa menambah menginap empat malam.

Karena itu, ketika KMP Ambu-Ambu muncul pada Selasa, 15 Juli pagi dan tetap berlayar ke Padang sesuai jadwal pada malamnya, saya sangat gembira dan langsung memutuskan naik.

Tentu saja ini bukan pengalaman pertama saya naik kapal ASDP, khususnya rute Mentawai. Tapi sudah berkali-kali. Jika tidak tergesa-gesa, saya memilih naik kapal ASDP karena tiketnya lebih murah. Tiket Padang-Tuapeijat hanya Rp140 ribu, sedangkan dengan kapal cepat Rp280 ribu.

Malam itu di atas KMP Ambu-Ambu, saya memilih di tempat terbuka di lantai tiga, duduk di kursi di dekat geladak. Rombongan turis asing yang baru pulang berselancar terlihat menggelar sleeping bag di lantai. Mereka terlihat minum bir dan mengobrol dengan suara keras.

Seperti saya, mereka sepertinya juga mendapat tiket kursi, karena penumpang membeludak. Kapal penuh dengan penumpang yang sudah beberapa hari tertahan di Tuapeijat.

Untungnya badai malam itu tidak terlalu besar. Tempias ombak tidak sampai ke geladak terbuka di lantai tiga. Ketika berada di tengah laut kapal memang terasa bergoyang cukup keras. Namun itu bagi saya tidak terlalu menakutkan dibandingkan menghadapi badai yang lebih besar ketika berangkat dengan kapal cepat seminggu sebelumnya.

Lampiran Gambar
Sebuah truk pikap membawa pisang hasil bumi masyarakat Pulau Siberut untuk dimuat ke KMP Ambu-Ambu milik ASDP di Pelabuhan Maileppet, Siberut Selatan. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Waktu itu kapal cepat yang saya tumpangi serasa mau pecah saat dihantam gelombang. Banyak penumpang berteriak ketika nahkoda tiba-tiba menurunkan kecepatan kapal. Karena itu saya jadi agak trauma naik kapal cepat. Dan jika bisa memilih, saya lebih memilih naik kapal yang lebih besar seperti KMP Ambu-Ambu ini untuk berlayar saat gelombang besar seperti itu.

Badai dan gelombang tinggi muncul di laut Kepulauan Mentawai sekitar Juni hingga Oktober, meski akhir-akhir ini perubahan iklim seringkali membuatnya lebih sulit diprediksi. Gelombang tinggi ini pula yang diburu para peselancar profesional dari berbagai negara sehingga setiap tahun mendatangkan sekitar 7.000 turis asing ke Mentawai.

Namun bagi nelayan dan orang biasa, termasuk masyarakat di Kepulauan Mentawai, gelombang tinggi ini mengganggu perjalanan laut mereka. Perjalanan menjadi berbahaya dengan kapal kecil. Karena itu, kapal besar seperti feri milik ASDP sangat membantu.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melayani masyarakat di Kepulauan Mentawai dengan dua kapal, yaitu KMP Ambu-Ambu dan KMP Gambolo. Kedua kapal dari Padang bergiliran mengunjungi pelabuhan di keempat pulaudi Kepulauan Mentawai, sehingga juga bisa digunakan untuk feri antar pulau.

Rute kedua kapal adalah Padang-Siberut (Pulau Siberut)-Tuapeijat (Pulau Sipora)-Padang dan Padang-Sikakap (Pulau Pagai Utara dan Selatan)-Tuapeijat (Pulau Sipora)-Padang.

Pada saat gelombang tinggi, guncangan tetap terasa di kedua kapal ASDP ini, meski tidak separah ketika berada di atas kapal cepat.

Teman saya, seorang aktivis NGO (Non Government Organization) memiliki pengalaman dihantam badai parah dan gelombang sangat besar ketika naik KMP Gambolo dari Padang ke Tuapeijat, melewati rute ke Sikakap.

Lampiran Gambar
Pisang batu dibongkar dari truk pikap ke KMP Ambu-Ambu milik ASDP di Pelabuhan Maileppet, Siberut Selatan. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Kejadian itu dua tahun lalu. Lama perjalanan 24 jam. Padang-Sikakap 12 jam dan Sikakap-Tuapeijat selama 12 jam.

“Saat itu 12 jam pertama dari Padang ke Sikakap kapal sudah diterjang badai dan hujan lebat. Tidak ada yang bisa duduk bersantai di ruang terbuka lantai tiga, karena terpaan ombak sampai ke sana,” katanya.

Tapi itu belum seberapa. Dalam perjalanan dari Pelabuhan Sikakap menuju Tuapeijat, badai jauh lebih dahsyat.

“Semua penumpang mabuk, muntah, dan yang paling parah kami kehabisan makanan dan minuman, karena lupa membelinya saat kapal berhenti 2 jam di Sikakap. Di kantin kapal juga sudah kehabisan makanan dan minuman,” ujarnya.

Akhirnya, karena kelaparan dan kehauan, ia memutuskan turun ke lantai bawah mencari apa yang bisa mengganjal perut di tempat barang. Ia memeriksa karung-karung yang berisi buah yang bisa dimakan yang dibawa penumpang dari Sikakap menuju Tuapeijat.

“Ternyata tidak hanya kami, penumpang lain juga kehabisan makanan dan mulai mencari apa yang bisa dimakan. Ada satu karung buah kuini yang bertuliskan nama seorang teman kami di Tuapeijat, itu yang kami ambil, nanti urusan belakangan dengan teman yang punya kiriman, daripada kelaparan di kapal,” katanya tertawa.

Penumpang lain juga melakukan hal yang sama. Beberapa karung pisang, buah-buahan yang bisa dimakan diambil penumpang.

“Lalu malam harinya tiba-tiba kami dapat jatah pisang rebus dari ABK (Anak Buah Kapal). Juga air minum. Ternyata ABK membuatkan kami makanan dan minuman, itu sangat berarti sekali,” ujarnya.

Angkutan Ekonomi Rakyat

Selain membawa penumpang, kapal ASDP dari Mentawai juga menjadi andalan rakyat untuk membawa hasil bumi ke Padang dan ke Tuapeijat.

Kepulauan Mentawai adalah penghasil pisang, cengkeh, pinang, pala, jengkol, kelapa, dan keladi. Khusus pisang, Kepulauan Mentawai adalah penghasil pisang terbesar di Provinsi Sumatera Barat. Berton-ton pisang dan hasil bumi lainnya dikirimkan ke Padang setiap minggu.

Lampiran Gambar
Perahu masyarakat membawa pisang hasil bumi Pulau Pagai Selatan untuk dinaikkan ke KMP Gambolo milik ASDP menuju Padang di Pelabuhan Sikakap, Kepulauan Mentawai. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Yang mengangkutnya adalah kedua kapal milik ASDP. Ada beberapa yang menggunakan kapal Sabuk Nusantara, namun sangat terbatas karena hasil bumi tidak bisa langsung dibawa dengan truk ke atas kapal.

Selain itu, kapal ASDP juga menjadi andalan untuk membawa barang-barang kebutuhan masyarakat, termasuk sembako dari Padang. Barang-barang kebutuhan sehari-hari ini tidak bisa mengandalkan kapal cepat, karena kapasitasnya yang terbatas dan tarifnya yang lebih mahal.

Karena itu, kedatangan kapal ASDP di pelabuhan-pelabuhan Mentawai dengan jadwal dua kali seminggu sangat ditunggu masyarakat. Setiap kapal masuk terciptalah pasar dadakan di dekat pelabuhan, terutama di Sikakap, pasarnya masyarakat di Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.

Di pasar dadakan inilah masyarakat bisa membeli aneka barang yang baru dibawa dari Padang. Sedangkan kaum perempuan dari kampung-kampung datang dengan perahu membawa hasil bumi dan laut seperti keladi, pisang, ikan, dan keong bakau yang segar untuk dijual.

Khusus pisang hasil bumi rakyat di Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, setiap kapal ASDP masuk di Pelabuhan Sikakap, kapal itu akan kembali ke Padang membawa 40 ton pisang. Biasanya pisang-pisang itu dari Padang didistribusikan ke Medan, Pekanbaru, Tanjungbalai, hingga ke Malaysia.

Dalam perjalanan ke Pagai Selatan, saya mengobrol dengan pemilik kebun pisang dan pengepul pisang yang sekaligus seorang kepala dusun di Kibumbu bernama Herlences.

Menurutnya dalam satu minggu warga dusunnya bisa mendapat uang Rp500 ribu dari menjual pisang batu kepada pengepul. Pengepul tersebut membawa pisang yang dibelinya dengan mobil pikap atau dengan perahu ke Pelabuhan Sikakap.

"Pisang inilah yang sekarang yang menghidupi masyarakat korban tsunami Oktober 2010 yang dulu direlokasi dari kawasan pantai ke tengah pulau," ujarnya.

Ia senang karena setiap keluarga di dusunnya dalam seminggu bisa berpendapatan Rp500 ribu dan sebulan Rp2 juta dari menjual hasil kebun pisang mereka.

“Itu sangat membantu, apalagi untuk kebutuhan sehari-hari bisa juga didapat dari laut sebagai nelayan," katanya.

Andil kehadiran kapal-kapal ASDP yang rutin di Pelabuhan Sikakap, meski pada saat cuaca buruk dan gelombang tinggi sekalipun, tentu saja sangat berperan melancarkan rantai pemasaran hasil bumi masyarakat Mentawai.

Lampiran Gambar
Pasar rakyat di Pelabuhan Sikakap, Pulau Pagai Utara di Kepulauan Mentawai makin ramai ketika kapal ASDP berlabuh. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Ekonomi Baru Korban Tsunami

Kepala Dusun Kibumbu Herlences menceritakan, pasca dilanda tsunami pada 25 Oktober 2010, ribuan kepala keluarga yang selamat di kampung-kampung pesisir di Pagai Selatan, termasuk dari dusunnya, direlokasi pemerintah ke tengah pulau.

Sejak itu, mereka mencoba beralih profesi dari nelayan menjadi petani. Mereka belajar berkebun dengan menanam pinang dan kelapa.

“Tapi harga pinang kemudian terjun bebas dan kelapa harus menunggu lama dipetik buahnya, pada 2019 mulai ada yang menanam pisang batu super dari Medan,” katanya.

Awalnya pisang batu super itu ditanam warga satu dusun, lalu diikuti warga lainnya. Kini hampir semua dusun berkebun pisang ini dengan meminta bibit kepada yang duluan menanam.

Akhirnya Pagai Selatan menjadi pemasok pisang terbesar di Mentawai. Kini pisang batu dari Mentawai dibawa ke Medan dan Malaysia.

"Pokoknya kalau di Mentawai ini mau sekolah atau tidak, asal rajin ke ladang atau ke laut, orang bisa hidup. Tanah sangat subur, pisang yang tumbuh bahkan tidak perlu dipupuk," ujarnya.

Ia mengusulkan agar jadwal kapal ASDP ke Sikakap ditambah. “Kalau bisa lebih dua kali seminggu, misalnya tiga kali seminggu, itu baru bisa menampung semua pisang di sini," kata Herlences.

Menurutnya, Kapal Sabuk Nusantara yang juga terkadang datang dengan jadwal yang tidak tetap tidak terlalu ideal untuk mengangkut pisang masyarakat.

"Mahal diongkos, karena harus keluar upah buruh angkut di pelabuhan, karena truk Colt Diesel tidak bisa langsung masuk ke kapal, " ujarnya.

Sedangkan kapal ASDP menurutnya sangat ideal, karena memiliki pintu rampa yang bisa menjadi jembatan untuk menaikkan truk sampai ke dalam kapal.

Juga Andalan Pedagang Lain

Pedagang non hasil bumi di Sikakap juga merasakan manfaat kapal ASDP. Supri Lindra, warga Sikakap yang memiliki toko kelontong menjelaskan, kebanyakan pedagang sembako, pakaian, dan barang lainnya di Sikakap memiliki  truk Colt Diesel sendiri untuk membawa barang yang mereka beli di Padang, lalu naik ke kapal ASDP untuk dibawa ke Sikakap.

Setelah barang dagangan mereka didistribusikan di Pasar Sikakap atau ke kedai-kedai di Pagai Utara dan Pagai Selatan, truk yang kosong itu akan membawa hasil bumi dari Sikakap ke Padang.

Sistem itu menurutnya menguntungkan pedagang, karena memotong biaya upah buruh angkut di pelabuhan. Kapal yang bisa melayani seperti itu hanya feri ASDP, yaitu KMP Gambolo dan KMP Ambu-Ambu.

“Banyak pedagang di Sikakap rela membeli truk sendiri karena itu lebih menguntungkan,” ujarnya.

Pada September  2024 saya naik KMP (Kapal Motor Penyeberangan) Gambolo milik ASDP dari Sikakap menuju Padang. Saat itu kapal penuh oleh pisang hasil bumi Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara. Bertandan-tandan pisang tersusun rapi di lantai bawah yang khusus untuk barang. Selain itu juga ada empat truk Colt Diesel bermuatan penuh jengkol.

Betapa vitalnya kapal feri ASDP ini membangkitkan dan menupang perekonomian masyarakat di Kepulauan Mentawai. (Febrianti/ Uggla.id)

Baca Juga

Maninjau
Kini Danau Maninjau Mengalami Krisis Lingkungan
Sampah Mentawai
Sampah di Keindahan Mentawai, Siapa yang Peduli?
Padangpariaman tambak
Menyorot Dampak Ekologis Tambak Udang di Padangpariaman
Sipora
Trend Asia: Intensitas Banjir Berlipat Menunjukkan Sipora Rentan Terhadap Krisis Iklim
KSP Sipora
Tim KSP Cek PBPH PT SPS ke Sipora, Tiga Komunitas Adat Sampaikan Penolakan
pisang
Hama Pisang Menyerang Mentawai, Ini Saran 3 Ahli Pertanian