Pangan Lokal, Seni Budaya, dan Pemutaran Film di Festival Ka Pussagaikat

Festival

Penampilan peserta Lomba Turuk Laggai di Festival Ka Pusagaikat 2026. (Foto: Srikandi Putri)

FESTIVAL Ka Pusagaikat 2026 yang diselenggarakan Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia di Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai sejak Senin (24/8/2026) telah memasuki hari kelima pada Jumat (28/8/2026).

Selama empat hari pelaksanaan, festival yang mengangkat semangat “Ka Pusagaikat” (Bersagu) telah menghadirkan berbagai kegiatan seni, budaya, pendidikan, kuliner, workshop, hingga pemutaran dan diskusi film.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat, anak-anak, generasi muda, komunitas, seniman, dan berbagai pihak untuk bersama-sama merawat dan mengembangkan kekayaan budaya Mentawai.

Pembukaan festival pada Senin (24/8/2026) digelar pada sore hingga malam, menjadi awal dari seluruh rangkaian “Musinuruk Ka Simaeruk #3” Festival Ka Pusagaikat 2026.

Festival dibuka Camat Siberut Selatan Hijon dan dihadiri unsur pemerintah desa, sanggar seni, tokoh masyarakat, seniman, serta masyarakat Desa Maileppet.

Lampiran Gambar
Nonton bareng film dokumenter “After the Trees” di Festival Ka Pusagaikat 2026. (Foto: Srikandi Putri)

Suasana pembukaan semakin meriah dengan penampilan tari kreasi Mentawai dan Turuk Laggai yang dibawakan anak-anak binaan Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia dan Sanggar Bubuakat Simalainge. Selain itu, siswa SMAN 1 Siberut Selatan menampilkan musikalisasi puisi.

Pameran foto dan karya seni menampilkan karya Toyan Seppungan (alumni Seni Rupa UNP yang berasal  dari Desa Maileppet), serta karya kerajinan tangan dari Pak Viktor (pengrajin rotan dari Desa Muntei) dan Pak Mater (pengrajin kerajinan Mentawai dari Desa Muntei).

Di tengah rangkaian pembukaan, panitia dan masyarakat juga melakukan makan bersama dengan sajian pangan lokal. Hidangan berupa sagu dan ikan yang dimasak menggunakan bambu, lalu disajikan menggunakan lulak berukuran besar.

Kegiatan makan bersama itu menjadi bagian dari semangat Ka Pusagaikat, yakni membangun kebersamaan sekaligus kembali mengingat peran pangan lokal dalam kehidupan masyarakat.

Hari kedua, Selasa (25/8/2026), festival menghadirkan Lomba Mewarnai bertema “Budaya Mentawai” yang diikuti lebih 100 anak tingkat TK dan SD di Kecamatan Siberut Selatan. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan semangat anak-anak dalam mengikuti kegiatan kreatif, sekaligus mengenal berbagai unsur budaya Mentawai sejak usia dini.

Kemudian dilanjutkan dengan Workshop Membuat Gelang Letcu. Peserta mendapatkan kesempatan mengenal dan mempraktikkan pembuatan gelang tradisional Mentawai sebagai bagian dari keterampilan dan kekayaan budaya lokal.

Lampiran Gambar
Bincang-bincang dengan sutradara, aktor, dan tim produksi film dokumenter “After the Trees” di Festival Ka Pusagaikat 2026. (Foto: Srikandi Putri)

Malamnya pemutaran dan diskusi film dokumenter “Umat Simagerre” karya Paulus Sabaggalet. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi karya film, sekaligus membuka kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi serta bertukar pandangan mengenai kehidupan dan masyarakat Mentawai.

Hari ketiga, Rabu (26/8/2026), kegiatan diawali dengan Lomba Memasak Sagu Inovatif. Para peserta menunjukkan kreativitas dalam mengolah sagu menjadi berbagai sajian makanan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong pengembangan sagu sebagai pangan lokal yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi untuk dikembangkan secara kreatif.

Selain itu, festival juga menghadirkan kegiatan pembuatan Tato Mentawai (Titi). Tradisi tato menjadi salah satu warisan budaya Mentawai yang memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Mentawai.

Malamnya kegiatan pemutaran film. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan film sebagai media apresiasi, pembelajaran, dan refleksi bagi masyarakat.

Lomba Memasak Sagu Tradisional

Pada hari keempat, Kamis (27/8/2026), kegiatan dimulai dengan Lomba Memasak Sagu Tradisional dengan menu Sagai Sibogjak. Melalui kegiatan tersebut, peserta menampilkan kemampuan mengolah makanan tradisional berbahan dasar sagu.

Lomba memasak ini menjadi salah satu upaya menghadirkan kembali pengetahuan tentang pangan tradisional Mentawai kepada masyarakat, terutama generasi muda, sekaligus menunjukkan bahwa sagu masih memiliki tempat penting dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat Mentawai.

Lampiran Gambar
Generasi muda di acara Festival Ka Pusagaikat 2026. (Foto: Srikandi Putri)

Siangnya kegiatan dilanjutkan dengan Workshop Membuat Tato Mentawai (Titi). Peserta diajak untuk mengenal lebih dekat bentuk, proses, serta nilai yang terkandung dalam tradisi tato Mentawai sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu terus dipelajari dan dijaga.

Malamnya Lomba Teater Cerita Asal Usul Sagu. Para peserta menampilkan kreativitas mereka melalui seni pertunjukan dengan mengangkat cerita dan pengetahuan tentang asal usul serta kehidupan yang berkaitan dengan sagu.

Setelah itu pemutaran dan diskusi film “After the Trees” karya Dhika Rizki. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta dan masyarakat untuk bersama-sama menikmati karya film, sekaligus berdiskusi mengenai berbagai gagasan dan perspektif yang dihadirkan melalui karya tersebut.

Hari kelima, Jumat (28/8/2026), diawali dengan Talkshow Ekonomi Kreatif bertema “Kreativitas Berakar dari Kearifan Lokal Mentawai”. Hadir Yulviadi Adek sebagai keynote speaker dan Anjelo Kalil dari Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai narasumber.

Melalui kegiatan tersebut, peserta yang berasal dari kalangan pelajar, pelaku kreatif, komunitas, pelaku UMKM, dan masyarakat akan diajak untuk melihat berbagai peluang pengembangan ekonomi kreatif yang berakar dari kekayaan budaya dan kearifan lokal Mentawai.

Malamnya dilanjutkan dengan Lomba Turuk Laggai. Para peserta menampilkan kemampuan, kreativitas, dan penghayatan dalam membawakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Mentawai.

Memasuki tahun ketiga, Festival Ka Pusagaikat 2026 merupakan upaya Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia terus menghadirkan ruang kebudayaan dan kreativitas yang tumbuh dari masyarakat serta berakar pada kearifan lokal Mentawai. (Kiriman: Srikandi Putri dari Desa Maileppet, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai)

Baca Juga

UNP
Mahasiswa UNP Tuntas Lakukan Riset di Hutan Nagari Tanjung Bonai Aur, Sijunjung
Festival Siberut
Festival Bersagu atau ‘Ka Pusagaiat’ Akan Digelar di Siberut
Bojakan
Desa Bojakan yang Masih Berjuang Memenuhi Kebutuhan Dasar
Mentawai
Warga Mentawai Lega Izin Perusahaan Kayu Dicabut
Hutan Adat Mentawai
Pengakuan Hutan Adat di Mentawai Melalui Uma
Mentawai Omai
Racun Panah Leluhur Mentawai di Ujung Peluru Modern