Oleh: Fathariq Fathur, Fatimah Azzahra, Ibrahim Akbar, Afifah Hasanah, dan Nisrina Alifah Yuliandra (Mahasiswa UNP Padang)
BATANG ARAU dikenal sebagai salah satu sungai ikonik di Kota Padang. Disebut ikonik karena menjadi sungai yang melewati Padang Kota Lama, pelabuhan tua Muaro Padang, hingga bermuara ke laut di Gunung Padang.
Sungai Batang Arau satu dari lima Daerah Aliran Sungai (DAS) utama di Kota Padang dan melintasi lima kecamatan. Ironisnya, kini Batang Arau juga sungai yang paling tercemar di Kota Padang.
Kami melakukan perjalanan mengamati aliran sungai Batang Arau pada 22 November 2025. Kami ingin melihat kondisi sungai Batang Arau dari salah satu hulunya hingga ke hilirnya di Muaro Padang.
Kami memulai dari salah satu hulunya, yaitu di Lubuk Paraku yang berada di bawah Bukit Barisan. Dari Lubuk Paraku, sungai ini mengalir sepanjang 30,6 kilometer hingga ke muaranya di depan Gunung Padang.
Titik pengamatan pertama di Lubuk Paraku. Di sana sungai mengalir di tengah hutan lindung Bukit Barisan. Kondisi airnya masih sangat bersih. Badan sungai dipenuhi batu-batu yang di selanya mengalir air yang jernih.
Di sepanjang jalur ini, aliran sungai masih cukup jauh dari permukiman warga dan lebih banyak melewati kawasan semak belukar dan pohon-pohon hutan. Karena itu, aktivitas manusia yang berpotensi mencemari sungai masih sangat minim.

Air Sungai Batang Arau dari Lubuk Paraku hingga Padang Besi memiliki kualitas air yang baik karena masih terlihat jernih. Dari Padang Besi menuju titik ketiga di Jembatan Pulau Air, sungai terlihat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pengairan untuk persawahan, mencuci pakaian, bahkan untuk mandi.
Di sini aliran sungai melewati sejumlah desa dan kelurahan, menandai meningkatnya interaksi langsung badan sungai dengan aktivitas masyarakat.
“Sekali-sekali enak mandi di sungai ini,” ujar Ijon, 52 tahun, warga bantaran Batang Arau di kawasan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan.
Ijon tinggal dan memiliki ruko tempat minum kopi tepat di tepi sungai. Menurutnya, air sungai di dekat rukonya masih sering dimanfaatkan warga untuk mandi dan mencuci.
“Kalau tidak hujan, airnya jernih dan bersih, sumber air PDAM juga dari sini,” katanya.
Memang, pipa-pipa PDAM terlihat memanfaatkan sungai Batang Arau sebagai sumber air baku.
Dengan kualitas air yang masih jernih, warga setempat juga terlihat memelihara ikan garing sebagai ikan larangan di dalam sungai.
Titik kedua pengamatan kami di Padang Besi hingga ke Jembatan Pulau Air. Memasuki titik kedua, di kawasan Padang Besi di Kecamatan Lubuk Kilangan, perubahan mulai terasa. Permukiman warga semakin padat dan aktivitas di bantaran sungai meningkat.

Kondisi berubah lebih signifikan di titik ketiga, tepatnya di Kecamatan Lubuk Begalung hingg ke Jembatan Pulau Air. Sungai mulai memasuki kawasan perkotaan padat dengan keberadaan sejumlah industri, termasuk industri karet. Air sungai mulai terlihat keruh.
Warna dan bau air sungai menjadi penanda awal meningkatnya beban pencemaran. Menjelang Jembatan Pulau Air kami mencoba menelusuri aliran sungai melalui jalan-jalan kecil yang sejajar dengan bantaran sungai.
Di beberapa lokasi ditemukan sejumlah indikator sumber pencemaran, seperti aliran pipa dari pabrik yang bermuara langsung ke sungai, aktivitas penambangan pasir dan batu sungai, saluran limbah rumah tangga, serta titik-titik pembuangan sampah di dekat aliran air.
Indikator-indikator ini banyak dijumpai di jalur kecil tepi sungai yang cukup jarang dilalui warga.
Titik Terakhir di Jembatan Siti Nurbaya
Titik terakhir aliran sungai Batang Arau berada di kawasan Jembatan Siti Nurbaya, wilayah paling ikonik sekaligus paling padat aktivitas manusia.
Di sini, sungai Batang Arau menanggung beban paling berat. Air tampak menghitam, dikelilingi aktivitas kapal nelayan, kapal penyeberangan ke Mentawai, restoran, serta kafe-kafe yang berdiri di tepi sungai.
“Di sini banyak nelayan, sungai ini cuma dipakai buat tempat sampan dan kapal berlabuh, tidak ada yang pakai airnya karena sudah kotor,” kata Upik, 50 tahun, warga bantaran sungai Batang Arau.

Upik sudah hampir 30 tahun tinggal di kawasan hilir Batang Arau. Ia memiliki kedai kecil di dekat sungai dan sehari-hari menyaksikan kondisi air yang semakin memburuk.
“Kadang orang buang sampah dan buang air di sana. Limbahnya juga datang dari hulu,” ujarnya.
Dari bawah Jembatan Siti Nurbaya aliran sungai melewati Pelabuhan Muaro Padang, lalu mengalir ke laut lepas, Samudera Hindia. Memasuki kawasan dermaga hingga mendekati muara dan ke lepas pantai di sekitar Jembatan Siti Nurbaya, kami menemukan akumulasi sampah yang sangat tinggi yang menumpuk di badan sungai bagian tepi.
Sampah tersebut sangat terlihat jelas ketika kondisi air sungai sedang surut. Kondisi ini membuat air tampak menghitam, diperparah dengan keberadaan bangkai kapal yang tidak lagi digunakan dan masih meninggalkan sisa-sisa oli di permukaan air.
Pada rentang wilayah dari Jembatan Pulau Air hingga Jembatan Siti Nurbaya dan muara, kualitas air Sungai Batang Arau sangat buruk dan warna airnya hitam.
Kondisi air Batang Arau pernah diteliti Adnan Sabilil Khairi Salfia dan Widya Prarikeslan dari Universitas Negeri Padang. Laporan penelitian mereka yang berjudul “Analisis Kualitas Air dan Estimasi Potensi Beban Pencemaran pada Sungai Batang Arau, Kota Padang” dipublikasikan pada Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Volume 10 Nomor 03, September 2025.
Adnan dan Widya pengambian sampel air pada empat titik lokasi yang kami telusuri, yaitu Lubuk Paraku, Padang Besi, Jembatan Pulau Air, dan di bawah Jembatan Siti Nurbaya.

Hasilnya, dari tiga indikator paling mencolok menunjukkan kerusakan kualitas air sungai Batang Arau, yakni COD, DO, dan amonia. Ketiganya menunjukkan perubahan paling drastis dari hulu ke hilir yang menandakan beban pencemaran kimia yang tinggi.
Amonia melonjak signifikan di titik tengah hingga hilir yang menunjukkan dominasi limbah domestik dan aktivitas pertanian. Sebaliknya, DO atau oksigen terlarut terus menurun, menjadi penanda bahwa ekosistem sungai semakin tidak sehat.
Divisi Penguatan Kelembagaan dan Hukum Lingkungan WALHI Sumatera Barat Tommy Adam mengatakan penurunan kualitas air sungai Batang Arau tidak dapat dilepaskan dari kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) secara keseluruhan.
“Alih fungsi lahan, pembukaan perladangan, penebangan hutan, hingga aktivitas pertambangan di hulu DAS memperparah erosi dan sedimentasi yang terbawa hingga ke hilir,” kata Tommy, 23 Desember 205.
Ia juga menyoroti keberadaan aktivitas pertambangan di hulu DAS Batang Arau, termasuk izin usaha pertambangan milik PT Semen Padang yang berpotensi menghasilkan limbah dan meninggalkan lubang bekas galian.
“Pemerintah harus melakukan audit lingkungan menyeluruh serta memperketat pengawasan agar kewajiban pengolahan limbah dan reklamasi dijalankan sesuai standar,” ujarnya. (Editor: Febrianti/Uggla.id)
(Liputan ini dikerjakan mahasiswa Fathariq Fathur, Fatimah Azzahra, Ibrahim Akbar, Afifah Hasanah, dan Nisrina Alifah Yuliandra untuk tugas Mata Kuliah Jurnalisme Lingkungan, kolaborasi Pulitzer Center dengan Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang).











