KOMUNITAS Sanggar Seni Uma Jaraik Sikerei Mentawai menggelar Festival dan Workshop Turuk Lagai di Sanggar Uma Jaraik Sikerei Mentawai, Desa Muntei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kamis-Jumat, 27-28 Agustus 2027.
Ketua pelaksana kegiatan, Yosep Sagari mengatakan pada festival yang difasilitasi dari dana Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat itu digelar lomba Turuk Laggai (Tari Laggai) dengan peserta siswa utusan dari 13 SD negeri dan swasta di Kecamatan Siberut Selatan.
“Tujuan kami menggelar lomba ini untuk mengenalkan Turuk Laggai kepada anak-anak sejak dini. Selain itu, juga untuk melatih keberanian dan kekompakan anak-anak ketika tampil di depan umum. Juga agar anak-anak Siberut Selatan bisa menari dan melestarikan budaya mereka sendiri, yaitu budaya Mentawai,” kata Yosep yang juga ketua Sanggar Seni Uma Jaraik Sikerei Mentawai.
Jenis turuk yang dilombakan, kata Yosep, adalah Turuk Bilou sebagai tari wajib dan 14 turuk lainnya sebagai tari pilihan.

“Ini adalah lomba Turuk Lagai yang keempat kalinya yang digelar Komunitas Uma Jaraik Sikerei Mentawai,” kata Yosep.
Acara pembukaan festival menampilkan turuk dari anak-anak Sanggar Uma Jaraik Sikerei dan Sanggar Pasigegeu, serta penampilan dari siswa SMAN 1 Siberut Selatan.
Sedangkan narasumber workshop adalah mantan Bupati Mentawai Yudas Sabagagalet, dosen seni ISI (Institut Seni Indonesia) Padang Panjang Susan Lora Vianti, dan kepala Bidang Budaya Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Yosep Sagari merintis Komunitas Uma Jaraik Sikerei Mentawai di Muntei sejak 2002. Sanggar ini didirikan agar anak-anak bia belajar seni dan budaya Mentawai. Pada 2010 Sanggar Uma Jaraik Sikerei Mentawai diresmikan sebagai sanggar pertama di Kepulauan Mentawai oleh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

“Lalu Pemerintah Desa Muntei membangun pondok untuk tempat sanggar di kantor desa, tempat anak berlatih musik dan belajar turuk. Saya menggandeng tiga orang sikerei di Muntai ikut membantu melatih anak-anak,” ujarnya.
Pada 2015 Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Sumatera Barat yang kini menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan (BP Kebudayaan) Sumatera Barat, membantu pendirian bangunan sanggar baru yang lebih luas. Namun pada 2021, bangunan itu miring dan rubuh akibat gempa.
Dua tahun lalu sanggar kembali dibangun dari bantuan Pemkab Kepulauan Mentawai.
“Saat ini jumlah anggota sanggar sekitar 50 anak, sebelumnya ada 70 anak, tetapi 20 lainnya sudah kuliah,” kata Yosep.
Anak-anak sanggar ini setiap minggu belajar kesenian, budaya, dan keterampilan tradisional, seperti musik, tari, kerajinan tangan, dan belajar tutur (bahasa) dan budaya Mentawai,” ujar Yosep. (Febrianti/ Uggla.id)











