Kembali Mengenal Sagu dan Akar Kehidupan Mentawai Melalui Festival Ka Pusagaikat

sagu

Joni, pemuda Desa Muntei, sedang memeras sagu yang sudah digiling dengan mesin. (Foto: Srikandi Putri)

Oleh: Srikandi Putri (Sekretaris Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia)

SAGU adalah bagian dari perjalanan hidup masyarakat Mentawai. Dari sagu, kita dapat melihat bagaimana manusia mengenal lingkungannya, mengambil seperlunya dari alam, mengolah sumber daya yang tersedia, dan bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sagu bukan hanya sesuatu yang tumbuh di hutan, tetapi juga bagian dari ingatan, pengetahuan, budaya, dan kehidupan.

Festival Ka Pusagaikat atau bersagu yang digelar Sinuruk Mattaoi merupakan sebuah ajakan untuk kembali mengenal perjalanan sagu secara lebih luas. Mulai dari mengenal pohon sagu, memahami cara mengolahnya, mempelajari pengetahuan yang ada di dalamnya, mengenal makanan yang dihasilkan, dan memahami hubungan sagu dengan kehidupan masyarakat dan alam.

Pada masa lalu, sagu memiliki tempat yang sangat penting dalam kehidupan Masyarakat Mentawai. Sebelum menjadi makanan, sagu melewati proses yang panjang. Proses menyagu dimulai dari pengetahuan untuk memilih pohon yang sudah siap diolah.

Tidak semua pohon sagu dapat dipanen pada waktu yang sama. Masyarakat yang memiliki pengalaman mengetahui tanda-tanda pohon yang telah siap untuk ditebang.

Pengetahuan seperti ini tidak diperoleh dalam waktu singkat. Ia tumbuh melalui pengalaman, pengamatan, dan proses belajar dari orang-orang yang lebih dahulu mengenal kehidupan dan alam.

Pada zaman dahulu, proses pengolahan sagu dikenal dengan istilah “Pasidereat Sagaik”, menggunakan teknik injakan kaki. Proses ini dilakukan dengan menggunakan sebuah perangkat pengolahan tradisional yang terdiri atas empat batang tonggak sebagai penyangga.

Selanjutnya, dipasang dua batang Lokkot sebagai bagian penopang, lalun di atasnya dibuat Gegeubet dari bambu. Tempat pengolahan juga dilengkapi dengan Gare yang terbuat dari bambu dengan ukuran sekitar satu meter.

Selain itu, terdapat Jarajak dari bambu yang ukurannya sedikit lebih panjang daripada Dereat. Pada bagian rangka, Pasidereat Sagaik juga dapat dibuat menggunakan papan kayu dengan panjang sekitar satu meter.

Bagian penting lainnya adalah Karuk Toitet, yaitu tempat untuk melakukan proses injakan terhadap isi sagu yang telah dicacah atau dihaluskan. Di bagian bawah perangkat Pasidereat Sagaik disiapkan sorosoujat, yaitu sampan kecil sebagai tempat menampung hasil olahan.

Lampiran Gambar
Batang sagu yang sudah di potong di tempat pengolahan sagu di Desa Muntei, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai. (Foto: Srikandi Putri)

Pada bagian atas perangkat juga dipasang tobat, yaitu atap yang terbuat dari daun sagu, untuk melindungi proses pengolahan dan mencegah hasil olahan jatuh ke sembarang tempat.

Dari sorosoujat, air yang mengandung pati sagu dialirkan melalui borojat. Bagian ini terbuat dari lulak besar atau pelepah sagu yang berfungsi sebagai saluran untuk mengalirkan air sagu ke tempat penampungan.

Selanjutnya, disiapkan sebuah sampan kecil sebagai wadah penampungan. Pada bagian dalam sampan dipasang sarobak sagaik yang terbuat dari pelepah sagu. Alat ini berfungsi untuk membantu mengarahkan aliran air sagu agar tidak tumpah ke mana-mana.

Pada bagian atas sampan juga dipasang gorojoubat sebagai alat penyaringan. Alat penyaring ini dibuat dari sabut kelapa atau ijuk dan berfungsi untuk menyaring serat-serat sagu sehingga air yang mengandung pati dapat masuk ke dalam sampan penampungan.

Bagian terakhir yang perlu disiapkan adalah tapri sagaik, yaitu wadah yang digunakan untuk menyimpan sagu yang telah menjadi pati. Tapri Sagaik terbuat dari daun sagu dengan panjang sekitar satu meter.

Perangkat Selesai, Pohon Sagu pun Ditebang

Setelah seluruh perangkat Pasidereat Sagaik selesai dipersiapkan, proses pengolahan sagu dimulai dari pemilihan pohon yang telah siap untuk diolah.

Pohon sagu kemudian ditebang melalui proses yang disebut Pasitadde Sagaik, yaitu kegiatan menebang pohon sagu menggunakan baliok. Setelah pohon tumbang, batang sagu dipotong dan dibelah menggunakan baliok untuk membuka bagian dalam batang.

Tahap berikutnya adalah Pasioddak Sagaik, yaitu proses mengupas atau membersihkan bagian kulit batang sagu yang tebal. Proses ini menggunakan alat yang disebut ooddak atau papakru. Setelah kulit batang dibersihkan, bagian dalam batang sagu atau empelur dapat terlihat. Bagian inilah yang mengandung pati dan selanjutnya akan diolah menjadi sagu.

Untuk mengambil bagian dalam batang sagu, dilakukan proses yang disebut Pasirukuk Sagaik. Proses ini menggunakan alat bernama rurukkuk, yang terbuat dari rotan dan pohon enau. Alat tersebut digunakan untuk mengambil isi sagu dari bagian kulit batang yang tebal. Setelah bagian dalam sagu berhasil diambil, proses selanjutnya disebut pasimomo, yaitu proses mencacah isi batang sagu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Dalam proses pasimomo, digunakan alat rujuk sagaik atau kukuiluk untuk mencacah bagian dalam batang sagu. Isi sagu kemudian dihaluskan hingga menjadi lebih lembut. Proses penghalusan dapat dilakukan menggunakan parang atau menggunakan alat berupa gergaji sagu yang dibuat dari paku-paku besar yang dipasang pada sebuah balok kecil. Sagu yang telah dicacah dan dihaluskan kemudian dikumpulkan untuk dibawa ke tempat Pasidereat Sagaik.

Untuk mengangkut sagu yang telah dicacah digunakan Bulukbuk, yaitu wadah berbentuk keranjang. Sagu yang telah dibawa kemudian diletakkan pada Pasidereat Sagaik untuk memasuki tahap pengolahan berikutnya. Pada tahap ini, sagu diproses menggunakan teknik injakan kaki. Air yang diperlukan selama proses tersebut diambil menggunakan Tatappu, yaitu alat yang terbuat dari pelepah sagu dan batang bambu kecil.

Lampiran Gambar
Potongan batang sagu yang direndam sebelum diolah di Desa Muntei, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai. (Foto: Srikandi Putri)

Proses Pasidereat Sagaik dilakukan dengan cara menginjak dan mengolah bagian dalam batang sagu yang telah dicacah. Proses ini bertujuan untuk membantu memisahkan pati sagu dari seratnya. Air dialirkan ke bagian sagu yang sedang diolah, kemudian hasil proses tersebut disaring. Serat sagu akan tertahan dalam alat penyaringan, sedangkan air yang mengandung pati sagu mengalir melalui Borojat atau Borojobat menuju sampan penampungan.

Pada bagian sampan penampungan, air sagu kembali melewati Gorojoubat yang berfungsi sebagai penyaring dari sabut kelapa atau ijuk. Proses penyaringan ini dilakukan agar serat-serat yang masih terbawa bersama air tidak masuk ke dalam endapan pati sagu. Air yang telah membawa pati kemudian ditampung di dalam sampan dan didiamkan hingga pati sagu mengendap.

Sagu yang telah ditampung kemudian didiamkan di dalam sampan sekitar tiga hari. Selama proses tersebut, pati sagu akan mengendap di bagian bawah, sedangkan air berada di bagian atas.

Setelah proses pengendapan selesai, air kemudian dibuang dan pati sagu yang telah terkumpul dimasukkan ke dalam Tapri. Sagu yang akan segera diolah menjadi makanan perlu dikeringkan terlebih dahulu. Sedangkan sagu yang belum akan digunakan dapat disimpan dengan cara direndam di dalam Eddetat, yaitu air yang digunakan sebagai tempat merendam Tapri Sagaik.

Satu Batang Menghasilkan 15 Tapri

Satu batang pohon sagu dapat menghasilkan sekitar 15 Tapri sagu dengan masing-masing Tapri berisi sekitar 50 kilogram. Proses ini menunjukkan bahwa pengolahan sagu secara tradisional merupakan pekerjaan yang membutuhkan waktu, tenaga, pengetahuan, keterampilan, serta kerja sama. Setiap tahapan memiliki cara, alat, dan istilah tersendiri yang menunjukkan adanya sistem pengetahuan lokal yang berkembang di tengah masyarakat.

Pengolahan sagu melalui Pasidereat Sagaik juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Mentawai pada masa lalu mampu mengembangkan teknologi pangan berdasarkan kondisi alam yang mereka hadapi. Peralatan yang digunakan sebagian besar berasal dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti kayu, bambu, pelepah sagu, daun sagu, rotan, sabut kelapa, dan ijuk. Proses tersebut tidak bergantung pada listrik maupun mesin modern, tetapi tetap mampu menghasilkan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Teknologi tradisional seperti Pasidereat Sagaik menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu harus berbentuk mesin yang rumit. Pengetahuan lokal yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat juga merupakan bentuk teknologi. Di dalam proses tersebut terdapat pengetahuan tentang pemilihan pohon sagu, cara menebang, teknik membuka batang, cara mengambil dan mencacah empelur, penggunaan air, proses penyaringan, hingga proses pengendapan dan penyimpanan sagu.

Lampiran Gambar
Tepung sagu di Desa Muntei, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai. (Foto: Srikandi Putri)

Karena itu, Pasidereat Sagaik bukan sekadar proses mengolah sagu. Di dalamnya terdapat hubungan antara manusia, alam, pengetahuan, keterampilan, dan kebersamaan. Proses ini juga menjadi salah satu bentuk pengetahuan lokal yang penting untuk dikenali, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang seiring dengan perubahan zaman.

Proses menyagu pada masa lalu juga tidak hanya dilakukan sebagai pekerjaan untuk menghasilkan makanan, tetapi juga kegiatan bersama. Setiap orang dalam keluarga akan terlibat. Ada yang menebang, ada yang membelah, ada yang mencacah, ada yang mengangkut, ada yang mengambil air, ada yang menyaring, dan ada yang memasak.

Selain itu, ada pula anak-anak yang belajar melalui pengamatan dan keterlibatan. Dalam proses seperti inilah pengetahuan diwariskan. Anak-anak belajar bukan hanya melalui penjelasan, tetapi melalui apa yang mereka lihat dan lakukan. Mereka mengenal sagu dengan menyaksikan orang yang lebih tua bekerja. Mereka belajar melalui kebersamaan. Oleh karena itu, bersagu bukan hanya proses menghasilkan pangan, tetapi juga proses menghasilkan hubungan sosial dan pengetahuan antargenerasi.

Sagu Makin Tersingkir

Sagu yang telah diolah kemudian menjadi berbagai makanan. Sagu dapat dimasak, dibakar, dibungkus, dan diolah dalam berbagai bentuk sesuai dengan pengetahuan dan kebiasaan masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat Mentawai dikenal berbagai olahan berbahan sagu, termasuk sagaik ka obbuk (Sagu dalam bambu) dan kapurut sagaik bentuk pengolahan sagu yang dimasak di dalam daun sagu.

Dari satu pohon sagu dapat lahir berbagai bentuk makanan. Hal ini menunjukkan bahwa sagu bukanlah bahan pangan yang hanya memiliki satu cara pengolahan. Sagu menyimpan kemungkinan kreativitas yang sangat luas. Ia dapat tetap hadir dalam bentuk tradisional, sekaligus dapat dikembangkan melalui berbagai inovasi pada masa sekarang.

Namun, kehidupan terus berubah. Dalam beberapa dekade terakhir, pola konsumsi masyarakat mengalami perubahan khususnya di Desa Maileppet. Beras dan berbagai jenis pangan dari luar semakin mudah ditemukan. Makanan instan hadir dengan cara yang lebih praktis. Untuk mendapatkan beras, masyarakat dapat pergi ke toko atau pasar, sedangkan proses mengolah sagu membutuhkan waktu, tenaga, keterampilan, dan pengetahuan.

Perubahan tersebut secara perlahan membuat posisi sagu dalam kehidupan sehari-hari semakin berubah. Sagu yang dahulu memiliki peranan penting sebagai pangan kini semakin jarang dikonsumsi dan diolah oleh sebagian generasi muda.

Lampiran Gambar
Pengolahan sagu rumahan di Desa Muntei, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai. (Foto: Srikandi Putri)

Seiring berkurangnya praktik menyagu, pengetahuan tentang proses pengolahan, alat tradisional, nilai budaya, dan filosofi yang berkaitan dengan sagu juga berpotensi semakin jauh dari kehidupan masyarakat.

Inilah yang menjadi salah satu alasan penting mengapa sagu memiliki urgensi untuk kembali dibicarakan hari ini. Ketika sebuah jenis pangan mulai jarang digunakan, yang terancam hilang bukan hanya makanannya. Bersama dengan itu dapat ikut hilang pengetahuan tentang pohonnya, pengetahuan tentang tempat tumbuhnya, pengetahuan tentang air dan rawa, pengetahuan tentang alat pengolahan, resep makanan, istilah bahasa, cerita, serta tradisi kerja bersama yang pernah tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Kehilangan sagu bukan sekadar persoalan perubahan selera makan. Kehilangan sagu dapat berarti kehilangan sebagian pengetahuan hidup yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

Urgensi sagu juga berkaitan dengan persoalan ketahanan pangan. Sebagai wilayah kepulauan, masyarakat Mentawai menghadapi kondisi geografis yang menyebabkan banyak kebutuhan pangan harus didatangkan dari luar. Distribusi pangan dapat dipengaruhi oleh kondisi transportasi laut, cuaca, keterlambatan pengiriman, dan perubahan harga.

Sementara itu, sagu merupakan salah satu sumber pangan yang tumbuh di lingkungan Mentawai. Hal ini mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan tidak hanya berarti memiliki makanan yang tersedia di toko atau pasar.

Ketahanan pangan juga berarti mengenal sumber pangan sendiri, memiliki kemampuan mengolahnya, serta menjaga agar sumber pangan tersebut tetap tersedia bagi generasi berikutnya. Sagu membuka kembali percakapan tentang kemampuan masyarakat untuk tidak sepenuhnya bergantung pada sumber pangan dari luar.

Sagu juga memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan. Sebuah pohon sagu tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam hubungan dengan tanah, air, rawa, dan hutan. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang menjaga sagu, kita sebenarnya sedang berbicara tentang menjaga ruang hidupnya. Menjaga air. Menjaga tanah. Menjaga rawa. Menjaga hutan. Menjaga berbagai kehidupan yang tumbuh di sekitarnya.

Pangan dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Apa yang kita makan memiliki hubungan dengan apa yang kita jaga. Melalui sagu, kita dapat kembali memahami bahwa manusia bukan hanya pengguna alam, tetapi bagian dari kehidupan yang juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya.

Festival Ka Pusagaikat yang diadakan setiap tahun di Desa Maileppet, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai adalah ajakan untuk bersagu. Bersagu adalah ajakan untuk mengenal alam, mengenal pangan, mengenal budaya, mengenal pengetahuan, dan mengenal kembali diri kita sendiri. (Srikandi Putri, Sekretaris Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia)

Baca Juga

Uma Jaraik
Uma Jaraik Sikerei Mentawai Gelar Workshop dan Festival Turuk Laggai
Festival
Pangan Lokal, Seni Budaya, dan Pemutaran Film di Festival Ka Pussagaikat
UNP
Mahasiswa UNP Tuntas Lakukan Riset di Hutan Nagari Tanjung Bonai Aur, Sijunjung
Festival Siberut
Festival Bersagu atau ‘Ka Pusagaiat’ Akan Digelar di Siberut
Bojakan
Desa Bojakan yang Masih Berjuang Memenuhi Kebutuhan Dasar
Mentawai
Warga Mentawai Lega Izin Perusahaan Kayu Dicabut