Melihat Pengangkatan Sikerei Baru di Matotonan

Sikerei

Bai Alangi membawa kami memetik bunga Kainauk di kebun belakang rumahnya. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

SUNGAI Rereiket yang kecokelatan mengalir tenang, membuat perjalanan kami dengan pompong, perahu ramping bermesin 4 PK, melaju tanpa hambatan.

Sungai Rereiket tidak sedang meluap, juga tidak sedang kering, memupus kekhawatiran saya harus menyeret perahu dalam perjalanan. Pompong kami hanya bisa memuat empat penumpang, saya, Jaka, Ocha, dan paling belakang operatornya.

Kami naik pompong dari Ugai, Desa Madobag menuju Desa Matotonan di Siberut Selatan, Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Dari Dermaga Maileppet kami naik sepeda motor agar perjalanan lebih singkat. Jika naik pompong dari Maileppet, bisa seharian naik pompong di sungai menuju Matotonan.

Ada punen besar yang ingin kami lihat, Liat Pulagajat, punen hari jadi Desa Matotonan ke-46. Sejak delapan tahun lalu, setiap kali ulang tahun, desa itu selalu mengadakan punen atau pesta adat. Saya sudah dua kali datang menyaksikannya.

Dua kawan saya sepertinya lebih antusias menikmati perjalanan karena ini perjalanan pertama mereka ke Matotonan. Mereka tak henti-henti memotret kanan kiri sungai, tebing yang longsor, pohon sagu yang tumbang, dan pompong lain yang tiba-tiba muncul dari kelokan depan.

Tapi naik pompong di bawah sengatan matahari membuat kepala saya sakit menyebabkan saya tidak lagi terlalu antusias memotret sepanjang sungai.

Lampiran Gambar
Bambu yang berdiri tinggi itu dihiasi daun enau berwarna kuning, menyambut kami ketika merapat di Desa Matotonan. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Desa Matotonan. Dari kejauhan di atas pompong, di atas tebing di belakang dermaga kecil, menjulang dua batang bambu bagaikan gerbang.

Bambu itu dihiasi daun enau berwarna kuning, seperti janur. Seekor burung kayu yang disebut “umat simagere” tergantung di puncaknya. Mainan roh itu bergoyang ditiup angin seakan digerakkan roh baik yang menyambut kadatangan kami.

Kami berloncatan keluar dari pompong dan naik ke tebing menuju jalan setapak menuju Desa Matotonan.

Suasana punen langsung terasa di mana-mana. Para perempuan mengenakan luat  (ikat kepala manik) yang diselipi bunga, dominan berwarna merah dan putih. Beberapa sikerei tampak memakai luat yang diselipi daun dan bunga di kepala, dan kalung manik yang digantungi daun alepet.

“Luar biasa budaya di Matotonan, masih berjalan seperti masa lalu,” kata Ocha.

Matotonan memang beda dari desa lain di Kepulauan Mentawai. Sikereinya masih banyak, sekitar 35 orang. Jauh lebih banyak dari desa-desa lain di Pulau Siberut, pulau terakhir tempat budaya tradisional Mentawai masih hidup. Desa lain hanya tinggal tiga hingga tujuh sekerei. Sedangkan di pulau lainnya, Pagai dan Sipora, sikerei dan budaya Mentawai sudah lama hilang.

Melewati Gerbang Roh

Suasana punen semakin terasa ketika kami melewati jembatan dan jalan desa yang dihiasi daun poula, daun surak, dan burung kayu.

Lampiran Gambar
Istri sikerei dan keluarga duduk di Balai Adat menunggu punen dimulai. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Di depan balai adat tempat punen berlangsung sudah terpasang gerbang dari kayu yang dihiasi pucuk daun enau. Di atasnya juga tergantung seekor burung kayu sebagai mainan bagi roh.

Gerbang itu dalam kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan kuno Mentawai, disebut juga gerbang roh yang menandai batas dunia luar dan wilayah uma pada saat punen Liat Pulagajat.

Beberapa tahun lalu punen Desa Matotonan digelar di uma yang berada di atas bukit, tak jauh dari pemukiman. Namun uma yang dibangun Pemkab Mentawai itu sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Karena itu, punen desa dipindahke ke Balai Adat.

Di depan Balai Adat, kami disambut Nada Rahmayanti, sekretaris acara punen desa tersebut. Nada memberi semua informasi yang kami butuhkan, termasuk jadwal acara dan aneka kuliner yang enak di stan buatan ibu-ibu Matotonan.

“Di sini adat Mentawai masih kuat, banyak sekali punen, nanti malam juga ada punen pengangkatan sikerei,” kata Nada.

Itulah informasi yang kami tunggu. Kesempatan langka bisa menyaksikan pengangkatan seorang sikerei. Jelas, ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Ali Umran Sarubei, mantan kepala Desa Matotonan yang menjadi Kordinator Pulagajat menyebutkan, punen diikuti 12 suku besar yang ada di Matotonan. Selain itu, Liat Pulagajat juga melibatkan 25 sikerei, para ahli pengobatan dan pemimpin acara ritual orang Mentawai.

“Di Matotonan ini semua tahapan dalam kehidupan ada punennya, kalau yang ini ritualnya sama dengan punen antar suku, namanya Liat Pulagajat, pesta untuk mendapatkan kebaikan,” ujarnya.

Lampiran Gambar
Sikerei baru, Amirudin Satoutou (kiri) setelah turuk atau menari ritual. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Sembilan tahun terakhir, ulang tahun desa dirayakan dengan Liat Pulagajat. Kegiatan yang didukung dengan dana desa itu bisa diikuti semau warga. Tahun ini kegiatan juga didukung Pemkab Mentawai Rp40 juta.

“Untuk biaya kegiatan sikerei, terutama pengangkatan sikerei, karen acara ini juga sudah masuk dalam agenda acara Kabupaten Kepulauan Mentawai,” kata Ali.

Gen Alpha Belajar Budaya Leluhur

Dulu, kata Ali, setiap suku mengadakan punen sendiri-sendiri. Punen dan pesta itu tidak bisa diikuti suku lain.

“Akhirnya kita buat punen desa agar bisa disaksikan semuanya. Ini juga untuk pelajaran budaya bagi anak-anak,” ujar Ali.

Memang, di halaman Balai Adat terlihat anak-anak sedang berlatih turuk atau tarian. Mereka langsung diajari beberapa sikerei. Mereka menghentakkan kaki di atas papan yang terpasang untuk tempat menari. Pemandangan yang menarik melihat anak-anak dari Gen Alpha belajar budaya leluhur mereka dari sikerei.

Setelah menikmati tiga mangkuk es cendol sagu Matotonan buatan ibu-ibu, kami ke penginapan di rumah Maria Saumanuk. Rumah Maria yang terletak di punggung bukit tempat saya menginap setiap berkunjung ke Matotonan. Dari rumahnya, lembah Matotonan dan perkampungan terlihat dengan jelas.

Malamnya kami menghadiri pengangkatan sikerei baru dari Uma Satoutou. Sikerei baru itu adalah Amirudin Satoutou.

Umanya malam itu dipenuhi orang yang ingin menyaksikan ritual pengangkatan sikerei. Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana dan Wakil Bupati Jakop Saguruk juga hadir.

Di tengah uma di sebelah lantai tari, seekor babi yang sangat besar yang sudah dibunuh diikat pada tiang uma dengan kepala ke bawah.

Lampiran Gambar
Sikerei mengajar anak-anak turuk atau menari. (Foto: Febrianti/Uggla.id)

Saya bertemu lagi dengan Pak Zaidin Samamutei. Ia orang yang sangat paham budaya Mentawai di Matotonan dan selalu bersemangat bercerita tentang adat Mentawai. Malam itu ia bersiap menjadi penabuh gendang gajeuma untuk punen pengangkatan sikerei baru.

“Babi yang digantung ini agar sikerei muda tidak malu-malu menari, biar semakin bersemangat,” katanya.

Zaidin menjelaskan, tariaan yang dibawakan sikerei dilakukan untuk menghibur simagere atauroh-roh leluhur.

“Juga roh kita manusia, supaya roh senang agar kita dilindungi,” ujarnya.

Tiga orang laki-laki mulai memanaskan gendang gajeuma di tungku api di sudut uma. Kulit biawak di gendang itu akan menegang dan mengeluarkan suara yang nyaring. Cahaya api menyapu wajah orang-orang. Juga menerpa wajah babi yang tergantung, membuat matanya bersinar.

Sikerei Baru Mulai Menari

Tiga orang sikerei senior bersama sikerei baru Amirudin Satoutou mula menari. Entakan kaki keempatnya terdengar keras berirama di lantai tari. Mata mereka terpejam, tangan menari, dan mulut mengumandangkan urai atau lagu.

Nyanyian itu terdengar magis memanggil roh para leluhur agar bergabung dalam punen pengangkatan sikerei yang sedang berlangsung.

Seorang sikerei membawa piring seng berisi bunga-bunga dan daun yang berfungsi menarik roh leluhur agar mendekat. Ia terus bernyanyi seolah merasakan kehadiran roh dan menghiburnya agar tetap bertahan bersama mereka. Ritual pemanggilan roh kemudian selesai dalam satu entakan kaki terakhir yang keras.

Acara muturuk yang meriah berlangsung hingga puncaknya ketika keempat sikerei muturuk sambil menginjak bara api. Sikerei muda berkali-kali kesurupan setiap selesai menginjak bara api.

Lampiran Gambar
Sikerei melakukan turuk saat ritual pengangkatan sikerei baru. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Berakhirnya ritual pengangkatan sikerei malam itu menandakan sikerei baru   sudah memenuh syarat sebagai seorang sikerei dan sudah siap melayani warga yang butuh pengobatan.

Kami pulang tengah malam dan langsung tidur agar besok bisa mengikuti punen desa dengan segar.

Pagi harinya Maria menghidangi kami dengan sarapan kapurut sagu yang masih hangat. Kapurut yang terbuat dari tepung sagu dan kelapa parut yang dibakar dalam daun sagu itu terasa gurih. Pas sekali dengan teh manis.

Jaka menerbangkan drone di halaman rumah Maria untuk mengambil gambar lanskap hutan Desa Matotonan yang masih diselimuti kabut. Matotonan berbatasan dengan Taman Nasional Siberut, karena itu masih banyak hutan di pinggir permukiman seperti di belakang rumah Maria.

Tak lama suara gong dari Balai Adat tiba-tiba berbunyi, bergaung di lembah Matotonan. Punen akan segera dimulai, kami juga bersiap. Di kebun terlihat para perempuan mengumpulkan bunga-bunga dan daun untuk keperluan punen dan untuk mereka pakai.

Kami memutuskan ke rumah Aman Alangi Kunen, seorang sikerei yang tinggal tak jauh dari rumah Maria. Kami ingin mengikuti istrinya, Bai Alangi memetik bunga.

Di depan umanya, Aman Alangi dan Bai Alangi menyambut kami dengan hangat. Mereka sedang sarapan kapurut dan sup daging babi bersama dua orang sikerei lainnya.

“Mari makan kapurut dulu,” kata Aman Alangi ramah.

Kami duduk bergabung dalam lingkaran para sikerei yang sedang sarapan pagi. Saya mengambil sepotong kapurut.

Lampiran Gambar
Dua perempuan Desa Matotonan menuju lokasi punen pengangkatan sikerei baru. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Usai sarapan, Bai Alangi membawa kami memetik bunga Kainauk di kebun belakang rumahnya. Aman Alangi mengikuti dari belakang. Seperti Aman Alangi, Bai Alangi juga orang yang ceria dan hangat. Ia memetik bunga sambil menyanyi lagu urai sikerei, lalu menari di tengah kebun bunga.

Ia sudah berdandan untuk punen, memakai kaos putih tanpa lengan dengan bawahan kain merah selutut. Lehernya dihiasi kalung khas istri sikerei dan sudah mengenakan luat hiasan kepala.

Tiba-tiba Bai Alangi memberi kejutan kepada kedua teman saya. Ia menyelipkan bunga Kainauk putih di bawah bandana Ocha dan dua bunga kainauk di atast elinga Jaka. Luat saya juga dipasangi bunga. Akhirnya kami sudah siap mengikuti punen, karena semua sudah memakai bunga.

“Lewat Saja Semua Penyakit”

Di depan Balai Adat sudah banyak yang datang. Para perempuan mengenakan atasan kaos putih tanpa lengan dengan bawahan kain merah selutut. Leher dihiasi kalung manik-manik dan kepala memakai luat yang disisipi bunga.

Para sikalabai, istri sikerei, mengenakan ogok manai atau hiasan kepala dari bulu ayam, bulu burung, dan manik-manik. Di punggung mereka terlihat tato motif titik geilat berupa garis-garis melengkung hingga ke lengan. Begitu juga di jari tangan, ada yang masih memiliki tato.

Para sikerei juga sudah berdandan, mengenakan bunga di kepala dan daun yang diikat pada lengan. Wajah sikerei dilukis dengan bulatan-bulatan hitam di pipi, hidung dan dagu dari jelaga yang dicampur minyak kelapa, membuat tampilan mereka lebih atraktif. Kembang sepatu merah terselip di atas telinga kanan dan kiri. Semuanya berdandan habis-habisan.

Lampiran Gambar
Ritual pengangkatan sikerei. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Gong kembali dibunyikan pertanda punen Liat Pulagajat dimulai. Di dalam Balai Adat seorang sikerei mulai memimpin ritual Lia Siboitok. Ini ritual kecil untuk memulai Liat Pulagajat.

Sikerei itu membawa piring berisi daun-daun dan bunga ke sekeliling ruangan mengitari orang yang hadir. Lalu membagikan seruas daun enau atau katsaila yang diikatkan ke kalung manik atau ke ikat kepala pada semua orang sambil mengucapkan doa-doa untuk menghindari kejadian yang buruk.

”Sailaku saila, saila ngangan bolo, saila ngangan besik, saila simakatanganga, saila batang, saila ula, saila simalauru.”

Artinya, “Lewat saja penyakit menular, lewat saja semua penyakit, lewat saja semua hal-hal buruk, lewat saja ular, jangan datang.”

Daun enau akan membuat panjang umur.

Beberapa kerei kemudian melakukan ritual Lia Gouk-Gouk (Ritual Ayam). Seekor ayam jantan putih dimantrai dengan urai, nyanyian sikerei.

Ayam itu dibawa berkeliling dan dihadapkan kepada tiap-tiap orang yang hadir sambil mengucapkan mantra. Ayam persembahan itu kemudian dibunuh dengan cara mematahkan lehernya oleh seorang pemuda di ruang belakang dan ususnya diterawang dan diramal seorang sikerei. Sepotong kecil hatinya ditaruh di Bakat Katsaila sebagai persembahan untuk roh.

Usai ritual sebagian orang kembali sibuk bekerja di belakang Balai Adat mempersiapkan hidangan pesta. Selebihnya melanjutkan muturuk atau menari. Lantai tari terdengar berderak-derak saat kaki-kaki menari di atasnya, ditingkahi suara gendang gajeuma yang dipukul dengan keras, menjadi pertunjukan yang menarik.

Bupati Mentawai Rinto Wardana yang hadir juga larut dalam punen. Ia mengenakan luat, ikatan kepala dari manik. Ia juga mengenakan kalung manik yang sudah diberi daun ailepet dan katsaila oleh sikerei.

Lampiran Gambar
Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana didampingi Wakil Bupati Jakop Saguruk menyalami sikerei. (Foto: Febrianti/ Uggla.id)

Rinto mengatakan setiap tahun Pemkab Mentawai akan mengalokasikan dana untuk membantu biaya pengangkatan sikerei di Matotonan.

“Karena menjadi sikerei itu berat, biayanya juga banyak, itu  yang menyebabkan semakin sedikit orang yang bersedia menjadi sikerei,” kata Rinto.

Padahal, lanjutnya, sikerei adalah sosok sental dalam menjalankan ritual budaya Mentawai.

“Kita akan bantu, kalau bisa setiap tahun ada satu sikerei baru yang diangkat,” ujarnya.

Selain akan membantu biaya pengangkatan Sikerei, Pemkab Mentawai juga akan membantu pembuatan uma di Matotonan sebagai tempat acara punen adat yang bisa dihadiri banyak orang.

Menjelang siang hidangan pesta mulai disiapkan. Di belakang uma daging babi direbus dalam kuali-kuali besar. Sagu dalam buluh bambu dibakar. Keladi direbus dan dihancurkan lalu dibulatkan bersama kelapa parut menjadi subet. Makan siang dihidangkan dalam piring-piring kayu yang panjang.

Pesta masih barlangsung hingga malam hari. Sayangnya, kami harus pergi meninggalkan Matotonan. Dua teman saya bertekad akan datang lagi.

“Kita harus kembali lagi ke sini untuk melihat punen yang lengkap tahun depan,” kata Ocha. (Febrianti/ Uggla.id)

Baca Juga

Uma Jaraik
Uma Jaraik Sikerei Mentawai Gelar Workshop dan Festival Turuk Laggai
sagu
Kembali Mengenal Sagu dan Akar Kehidupan Mentawai Melalui Festival Ka Pusagaikat
Festival
Pangan Lokal, Seni Budaya, dan Pemutaran Film di Festival Ka Pussagaikat
UNP
Mahasiswa UNP Tuntas Lakukan Riset di Hutan Nagari Tanjung Bonai Aur, Sijunjung
Festival Siberut
Festival Bersagu atau ‘Ka Pusagaiat’ Akan Digelar di Siberut
Bojakan
Desa Bojakan yang Masih Berjuang Memenuhi Kebutuhan Dasar