Racun Panah Leluhur Mentawai di Ujung Peluru Modern

Mentawai Omai

Salah satu senapan yang sering digunakan untuk berburu saat ini di Pagai Utara, Kepulauan Mentawai. (Foto: Mentawai Primate Conservation Education, 2024)

Oleh: Addy Mukhziae, Jefrial, dan Rizaldi (Primate Conservation Education Program)

SEEKOR primata yang baru saja terluka tidak langsung jatuh. Ia masih sempat berlari, memanjat, dan berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Para pemburu mengikutinya dengan sabar, tidak tergesa dan tidak panik. Mereka tahu cara kerja omai.

Mereka hanya perlu menunggu. Sehabis mengisap sebatang rokok, racun itu menyelesaikan tugasnya.

Omai adalah ekstrak tumbuhan beracun yang telah digunakan masyarakat Mentawai sejak lama sebagai bagian dari tradisi berburu.

Omai merupakan satu simpul dari sistem pengetahuan ekologi yang jauh lebih kompleks dari yang terlihat. Sistem yang hari ini berhadapan dengan tekanan yang belum pernah ada sebelumnya.

Untuk memahami omai, kita perlu memahami dulu bagaimana masyarakat Mentawai memandang dan mengelola hutannya.

Berbeda dengan banyak kelompok masyarakat yang memisahkan ladang dari kawasan hutan, masyarakat Mentawai secara tradisional menanam tanaman pangan langsung di dalam hutan; durian, pisang, keladi, kelapa, dan sagu. Lalu mereka membiarkannya tumbuh dengan sedikit campur tangan hingga musim panen tiba.

Protein dilengkapi dari tiga jalur: peternakan, perikanan laut, dan sungai. Termasuk moluska, krustasea, dan perburuan. Dari ketiga jalur ini, perburuan adalah yang paling sarat dengan aturan, ritual, dan tata nilai yang diwariskan lintas generasi, sebuah sistem yang melibatkan jauh lebih banyak pihak daripada sekadar pemburu dan hewan buruannya.

Lampiran Gambar
Proses peracikan omai, hanya segelintir orang yang mengetahui jenis tanaman dan takaran yang digunakan untuk membuat racun ini. (Foto: Mentawai Primate Conservation Education, Pagai Utara, 2024)

Primata menjadi salah satu hewan buruan utama. Enam spesies selalu disebut dalam konteks ini: masepsep (simakobu, Simias concolor), bilou (siamang kerdil, Hylobates klossii), atapaipai (lutung pagai, Presbytis potenziani), joja (lutung siberut, Presbytis siberu), siteut (beruk pagai, Macaca pagensis), dan bokkoi (beruk siberut, Macaca siberu).

Semuanya adalah spesies endemik Mentawai. Spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di muka bumi. Namun saat ini tercatat dalam daftar merah IUCN dengan status terancam hingga kritis. Masepsep secara konsisten disebut warga sebagai yang paling lezat, karena itu paling sering menjadi target buruan.

Omai dibuat dari campuran berbagai jenis tanaman, di antaranya daggi (Tabernaemontana peduncular) dan laingi (Derris elliptica), dengan campuran cabe lokal yang disebut raro (Capsicum frutescens) dan sejumlah bahan tambahan lainnya.

Resepnya dijaga ketat, diketahui oleh segelintir orang yang mewarisi keahlian meraciknya. Panah-panah yang diolesi omai disimpan di atas perapian. Bukan tanpa alasan, asap pembakaran berfungsi sebagai pengawet alami yang memperkeras kayu dan memperpanjang usia simpan senjata.

Dalam literatur etnobotani, racun panah berbasis tumbuhan seperti ini dikenal luas di berbagai budaya berburu di seluruh dunia, dari curare yang digunakan suku-suku di Amazon hingga racun berbasis Antiaris toxicaria di berbagai wilayah Asia Tenggara.

Prinsip kerjanya serupa senyawa aktif dalam racun menyerang sistem saraf atau otot hewan buruan, menyebabkan kelumpuhan progresif yang bekerja bahkan dari luka yang sangat kecil. Anak panah tidak perlu mengenai organ vital, goresan kecil sudah cukup.

Pantangan dalam Perburuan

Perburuan dalam tradisi Mentawai tidak bisa dilepaskan dari sistem pantangan yang menyertainya, seperangkat aturan yang, jika dilihat lebih dekat, menyimpan logika ekologis yang bisa dianalisis secara ilmiah. Sistem ini bahkan sudah bekerja jauh sebelum seorang pemburu melangkah masuk ke hutan, dan terus bekerja jauh setelah ia kembali, termasuk pada orang-orang yang sama sekali tidak ikut berburu.

Lampiran Gambar
Simakobu (Simias concolor), jenis primata endemik Mentawai yang termasuk jenis primata paling kritis untuk punah di dunia di Pagai Selatan. Sayangnya, diakui sebagai jenis buruan paling enak dan paling dicari. (Foto: Sah Putra Adrian, 2026)

Keberangkatan berburu bukan keputusan yang dirapatkan atau didiskusikan secara terbuka di antara anggota kelompok. Keputusan ini datang dari satu sumber: orang yang dituakan dalam kelompok atau suku, yang menyampaikan kabar keberangkatan kepada anggota lainnya. Begitu kabar itu disampaikan, setiap kepala keluarga atau laki-laki dewasa dalam kelompok otomatis terikat untuk ikut serta, tanpa perlu diminta satu per satu.

Ketiadaan perdebatan di sini bukan tanda ketidakpedulian, melainkan tanda bahwa otoritas tetua sudah mengakar kuat dalam struktur sosial, sehingga energi kolektif tidak perlu terkuras untuk bernegosiasi setiap kali perburuan akan digelar.

Waktu keberangkatan sudah diketahui jauh sebelumnya. Biasanya tiga hingga tujuh hari sebelum hari pelaksanaan. Jeda yang sengaja diberikan agar pada hari yang sudah ditentukan, seluruh aktivitas anggota kelompok benar-benar dikhususkan untuk berburu, tidak melakukan urusan lain.

Selama jeda itu, persiapan berjalan dengan tata cara yang ketat. Setiap pemburu wajib menyiapkan peralatan buruannya sendiri, senapan atau panah, omai, perbekalan, satu hari sebelum keberangkatan. Tidak ada ruang untuk persiapan dadakan pada hari H.

Begitu seseorang sudah disebut dan terkonfirmasi akan ikut dalam rombongan, ia tidak lagi memiliki opsi untuk mengundurkan diri, terutama begitu memasuki sehari sebelum keberangkatan. Komitmen ini final, sebuah jaminan bahwa jumlah personel yang dibutuhkan untuk ekspedisi yang bisa berlangsung berhari-hari di hutan tetap utuh hingga hari keberangkatan tiba.

Begitu rombongan benar-benar memasuki hutan, ritual pertama yang dilakukan adalah memohon restu dan izin kepada roh-roh penjaga kawasan tersebut. Permohonan yang sama diulang kembali saat rombongan hendak pulang, sebuah simetri yang menempatkan hutan bukan sebagai ruang kosong yang bebas dimasuki, melainkan sebagai wilayah yang dihuni dan harus dihormati keberadaannya, baik saat masuk maupun saat keluar.

Selama proses perburuan berlangsung, ada satu pantangan yang menuntut ketahanan fisik nyata: selama target buruan belum berhasil ditangkap, anggota kelompok tidak diperbolehkan makan atau minum. Rasa lapar dan haus, dalam logika ini, menjadi pengingat yang terus-menerus bahwa perburuan adalah pekerjaan serius, bukan sekadar perjalanan santai ke dalam hutan.

Lampiran Gambar
Bertemu dengan Siteut (Macaca pagensis) dalam perjalanan menuju Dusun Tapak, Desa Bulasat, Pagai Selatan, 2026. (Foto: Sah Putra Adrian)

Yang menarik, pantangan serupa juga berlaku di tempat yang sama sekali berbeda, jauh dari hutan: di dalam rumah. Selama para laki-laki sedang berburu, istri dan anak-anak yang ditinggalkan hanya diperbolehkan beraktivitas di dalam rumah, tidak bebas berkeliling atau menjalani hari seperti biasa.

Dua pantangan ini, puasa di hutan dan kurungan diri di rumah, terjadi bersamaan, di dua tempat yang terpisah jauh, tanpa ada cara bagi kedua pihak untuk benar-benar mengetahui apa yang sedang dilakukan pihak lain pada saat itu.

Namun keduanya terikat oleh kepercayaan yang sama, bahwa nasib si pemburu di kedalaman hutan entah bagaimana terhubung dengan kepatuhan keluarganya di rumah. Hubungan yang tidak bisa dibuktikan secara sebab-akibat ini menyingkapkan sesuatu yang penting: dalam pandangan masyarakat Mentawai, perburuan bukan urusan pribadi seorang pemburu dengan hutan dan buruannya, melainkan urusan kolektif yang melibatkan seluruh rumah tangga, bahkan seluruh komunitas, terlepas dari siapa yang benar-benar melangkah masuk ke rimba.

Sebelum berangkat berburu, seorang pemburu juga harus memastikan tidak ada konflik atau pertengkaran yang belum diselesaikan. Saat berburu, dilarang berkata kasar, mencela hewan buruan, atau mempermainkan hewan yang sudah tertangkap. Perburuan harus dilakukan minimal berdua, tidak boleh sendiri.

Setelah hewan ditangkap, pantangan berlanjut. Hasil buruan dimasak sebagai sup, tidak boleh diolah dengan cara lain. Dagingnya harus dihabiskan dalam waktu singkat, bahkan dibagikan kepada tetangga dan sanak saudara agar tidak tersisa. Tulang hewan harus ditanam atau dibakar. Dan selama hidangan belum habis, pemburu pantang berhubungan dengan pasangannya.

Bagi pengamat luar, aturan-aturan ini mungkin terkesan sebagai kepercayaan semata. Tapi dalam kerangka ekologi perilaku, setiap pantangan ini dapat dianalisis fungsinya secara konkret. Sistem pemberitahuan terpusat oleh tetua, jeda waktu tiga hingga tujuh hari, dan komitmen yang tidak bisa dibatalkan, secara efektif membatasi frekuensi perburuan: ekspedisi berburu tidak bisa dilakukan kapan saja secara impulsif, melainkan harus melalui proses perencanaan yang memberi jeda alami bagi populasi hewan buruan untuk tidak terus-menerus ditekan.

Kewajiban berbagi hasil buruan mencegah penimbunan dan mendorong distribusi sumber daya di dalam komunitas. Larangan berburu sendirian menciptakan kontrol sosial atas frekuensi perburuan, karena setiap perburuan harus melibatkan lebih dari satu orang dan dengan demikian lebih mudah diketahui komunitas.

Larangan mempermainkan hewan yang tertangkap mencerminkan prinsip yang dalam etika berburu modern disebut clean kill, meminimalkan penderitaan hewan buruan secara tidak perlu.

Pantangan bukan hambatan, melainkan sebuah sistem yang selama berabad-abad menjaga agar perburuan tidak berlebihan. Karena setiap aturannya tertanam dalam kepercayaan yang dipegang sungguh-sungguh oleh seluruh anggota komunitas, bukan hanya oleh mereka yang memanggul senapan ke hutan. Kepercayaan yang kini sering terabaikan.

Lampiran Gambar
Tim Survei Primata Mentawai melakukan penelitian lapangan terkait keberadaan primata endemik Mentawai sejak 2023. (Foto: Survei Primata Mentawai, Sipora, 2023)

Penggunaan Omai dalam Perburuan Saat ini

Perburuan di Mentawai hari ini masih menggunakan omai, tapi renggang dari larangan dan pantangan. Inilah inti perubahannya, pada sistem nilai yang dulu mengelilingi dan membatasi perburuan itu, sistem yang kini semakin sering dianggap memberatkan, tidak relevan, atau sekadar pilihan.

Busur telah lama digantikan senapan angin. Meski demikian, omai masih digunakan pada peluru, presisi yang diberikan senapan kini berpadu dengan daya bunuh omai yang sudah teruji selama berabad-abad. Busur memiliki jangkauan terbatas, menuntut pemburu bergerak lambat, membaca perilaku hewan, dan menerima bahwa banyak percobaan akan gagal.

Senapan menghapus sebagian besar hambatan itu. Ketika akurasi senapan digabungkan dengan omai yang bekerja bahkan dari luka kecil, primata yang sebelumnya bisa lolos karena jarak atau kecepatan kini jauh lebih rentan.

Tapi kombinasi mematikan ini seharusnya masih bisa dikendalikan jika sistem berburu tradisional dan pantangan masih diikuti seperti perburuan yang dipimpim tetua. Jeda tiga hingga tujuh hari sebelum keberangkatan, kewajiban berburu secara komunal, hingga pantangan yang mengikat baik pemburu di hutan maupun keluarga di rumah, semuanya secara tak langsung berfungsi sebagai regulasi yang mengatur skala dan frekuensi perburuan. Menjaga agar tekanan terhadap populasi fauna tetap dalam batas yang bisa ditanggung.

Begitu rangkaian mekanisme ini diabaikan, satu per satu, fungsi pengaturnya pun lumpuh. Sebuah sistem yang dilandaskan pengetahuan kearifan selama berabad-abad kini ditinggalkan .

Saat aturan ini tak dilaksanakan, ditemani senapan di tangan serta peluru berlumur omai, seorang pemburu bisa menghabisi jauh lebih banyak primata dalam waktu jauh lebih singkat dari yang pernah dimungkinkan oleh nenek moyang mereka.

Selama perjalanan kami di Pagai Utara, Pagai Selatan, dan Sipora, kami temui para pemburu telah pergi berburu dengan senapan angin dan mendapati pengamatan yang selalu sama: populasi primata di sekitar dusun-dusun mereka sudah jauh berkurang dibanding beberapa dekade lalu.

Dulu, bilou dan masepsep masih sering terlihat di tepi-tepi dusun. Kini, pemburu harus masuk jauh ke dalam hutan untuk menemukan mereka, dan perjalanannya semakin jauh dari tahun ke tahun.

Deforestasi oleh perusahaan kayu memperparah situasi ini, memutus jalur perpindahan antar kelompok primata dan menyempitkan ruang gerak mereka. Tapi primata yang terisolasi dalam kantong-kantong hutan yang semakin kecil justru semakin tidak punya ruang untuk menghindar dari pemburu. Dalam kondisi itu, setiap tembakan yang berhasil menjadi jauh lebih signifikan.

Lampiran Gambar
Panah, busur, dan ketapel yang digunakan untuk berburu secara tradisional di Pagai Utara, 2024. (Foto Mentawai Primate Conservation Education)

Dalam konteks inilah sistem adat berburu Mentawai perlu dilihat ulang: bukan sebagai hambatan bagi kehidupan modern, dan bukan pula sekadar warisan budaya yang perlu dilestarikan demi nilai simboliknya. Sistem itu adalah mekanisme penyangga ekologis yang nyata, yang selama berabad-abad bekerja tepat karena ia tertanam dalam kepercayaan, bukan ditegakkan oleh institusi.

Omai dan Masa Depan yang Menipis

Pengetahuan tentang omai, cara memilih tanamannya, cara mencampurnya, cara mengukur takarannya, adalah pengetahuan yang tidak tersimpan di buku. Ia tersimpan di tangan orang-orang yang sudah meraciknya puluhan kali, di ingatan yang terbentuk dari pengalaman langsung, dalam tradisi lisan yang hanya hidup selama ada orang yang mau mendengar dan belajar.

Tapi ada yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar hilangnya resep omai, yang sedang hilang lebih cepat adalah sistem nilai yang dulu mengelilinginya. Omai tanpa aturan adat adalah racun tanpa kendali.

Ia tetap bekerja dengan sempurna, melumpuhkan, membunuh, mengalirkan ke dalam aliran darah hewan buruan dalam hitungan menit, tapi tidak tertakar lagi kapan ia boleh digunakan, seberapa sering, dan untuk berapa banyak.

Inilah ironi terbesar dari pergeseran ini: omai, yang lahir dari sistem pengetahuan yang sangat menghormati keseimbangan alam, kini justru mempercepat ketidakseimbangan itu.

Ketika hutan Mentawai terus berkurang dan pantangan terus ditinggalkan, dua hal terancam sekaligus: habitat fisik yang menjadi rumah bagi enam spesies primata yang tidak ada duanya di bumi ini, dan sistem nilai yang selama berabad-abad menjadi satu-satunya penjaga hubungan antara manusia Mentawai dan hutannya.

Bilou, joja, masepsep masih bisa terdengar suaranya di kanopi yang tersisa. Tapi suara itu kini datang dari semakin jauh di dalam hutan, dan jarak itu terus bertambah. (*)

Baca Juga

Sukat Mentawai
Alasan Kenapa Sukat Mentawai Lahir
Batang Arau Padang
Batang Arau: Dari Hulu yang Jernih hingga Hilir yang Menghitam
Siberut
Ancaman Ekologis Hutan Tanaman Energi Mengintai Siberut
sapi sampah
Sapi-Sapi Pemakan Sampah Kota Padang
Telur Penyu
Telur Penyu yang Dilindungi Kembali Marak Dijual di Kota Padang
banjir bandang padang
Banjir Bandang di Kota Padang: Daratan Sengsara, Laut Turut Menderita