Enam Hari Festival Ka Pusagaikat di Maileppet

festival

Anak-anak mengikuti lomba mewarnai pada Festival Ka Pusagaikat. (Foto: Dok Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia)

FESTIVAL Ka Pusagaikat di Maileppet, Siberut Selatan Kepulauan Mentawai telah berlangung selama enam hari, 24-29 Agustus 2026. Festival yang digelar Komunitas Sinuruk Mattaoi ini menjadikan sagu sebagai ruang bertemu seni, budaya, dan generasi muda.

Selama enam hari itu, berbagai kegiatan telah digelar. Pameran seni dan foto, kegiatan edukasi, lokakarya, pemutaran dan diskusi film, perlombaan, pertunjukan seni, kegiatan ekonomi kreatif, dan talkshow. Tempat kegiatan di Aula Conforti Desa Maileppet dan beberapa ruangan lainnya selalu ramai peserta dan pengunjung.

Yang menarik adalah banyaknya generasi muda, anak-anak dan remaja, yang terlibat. Anak-anak terlibat dalam lomba mewarnai ‘Festival Menyagu’. Lomba ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengenal budaya melalui aktivitas kreatif.

Kemudian para remaja mengikuti lomba teater cerita asal-usul sagu, lomba tari kreasi Pasidereat Sagaik, kegiatan membuat sagu zaman dulu, dan Turuk Laggai. Ini semua membawa cerita, praktik, dan pengetahuan lokal ke ruang ekspresi generasi muda.

Sagu juga hadir secara langsung melalui kegiatan memasak. Lomba memasak sagu tradisional dengan menu Sagai Sibogjak serta lomba memasak sagu inovatif menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan kuliner tradisional dengan kreativitas masyarakat.

Kegiatan memasak ini menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi dapat terus dikembangkan dan diperkenalkan dalam bentuk yang sesuai perkembangan zaman.

Srikandi Putri, penggagas Musinuruk Ka Simaeruk mengatakan “Ka Pusagaikat” dimaknai bukan hanya sebagai kegiatan makan sagu, tetapi sebagai upaya kembali melihat sagu sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat Mentawai, terutama di Desa Maileppet.

“Di dalam sagu ada pengetahuan, ada cerita, ada budaya, dan ada potensi yang bisa dikembangkan oleh generasi sekarang,” ujarnya.

Gagasan mengenai pengembangan potensi lokal juga diperkuat melalui talkshow ekonomi kreatif bertema “Kreativitas Berakar dari Kearifan Lokal Mentawai”. Kegiatan ini mempertemukan pelajar, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, UMKM, dan masyarakat untuk membicarakan bagaimana kekayaan lokal dapat menjadi sumber gagasan dan peluang di masa depan.

Lampiran Gambar

Remaja peserta Turuk Lagai di Festival Ka Pusagaikat. (Foto: Dok. Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia)

Di sisi lain, festival juga memberikan ruang bagi praktik kebudayaan Mentawai untuk terus dikenali dan dipelajari. Lokakarya tato mentawai dan lokakarya membuat gelang letcu khas Mentawai menjadi bagian dari upaya mempertemukan tradisi dengan kreativitas generasi muda.

“Praktik budaya ini tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan, tetapi juga menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari dan diapresiasi oleh generasi berikutnya,” kata Srikandi.

Pertunjukan seni pada festival, katanya, tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi cara untuk membangun kembali hubungan generasi muda dengan kebudayaan mereka sendiri.

“Seni menjadi bahasa yang memungkinkan pengetahuan lokal hadir dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja saat ini,” katanya.

Keterlibatan masyarakat juga diperkuat melalui kehadiran pelaku UMKM dan berbagai komunitas serta mitra yang mendukung pelaksanaan festival. Ini menjadikan “Musinuruk Ka Simaeruk” tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan, pendidikan, pangan lokal, dan ekonomi kreatif Mentawai.

Pada penutupan Musinuruk Ka Simaeruk #3, Sekretaris Desa Maileppet turut menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan anak-anak dan generasi muda dalam mengangkat tema Pusagaikat (Bersagu) selama pelaksanaan festival.

“Kita semua sudah melihat festival ini selama enam hari berturut-turut. Anak-anak kita sudah melakukan yang terbaik dalam mengangkat tema Pusagaikat,” kata Srikandi.

Karena itu, ia mengajak bersama-sama memaknai apa sebenarnya sagu dalam kehidupan orang Mentawai.

“Di sini kita bisa melihat proses anak-anak kita melalui seni, berbagai kegiatan yang diadakan, serta tulisan-tulisan mengenai sagu,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan kebiasaan mengonsumsi dan mengolah sagu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Mentawai.

“Mari sama-sama kita hidupkan kembali kebiasaan kita yang menjadikan sagu sebagai makanan pokok dan mengolah sagu dengan berbagai menu, agar anak cucu kita tidak lupa bahwa kita orang Mentawai memiliki sagu sebagai salah satu makanan penting dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Bagi Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia, keberadaan festival tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ruang kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat.

Festival tidak dimaksudkan untuk sekadar merayakan budaya selama beberapa hari, tetapi untuk membuka percakapan tentang bagaimana pengetahuan dan kekayaan lokal dapat terus hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Sagu menjadi salah satu pintu masuk untuk percakapan tersebut. Di tengah perubahan pola konsumsi dan perkembangan zaman, menghidupkan kembali pangan lokal berarti juga menghidupkan kembali pengetahuan tentang bagaimana masyarakat mengenal, mengolah, mengonsumsi, dan memaknai sumber pangan yang tumbuh dari lingkungan mereka sendiri.

Musinuruk Ka Simaeruk #3 kemudian memperlihatkan bahwa pelestarian pangan lokal dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu dari dapur, ruang kelas, panggung seni, ruang pamer, forum diskusi, hingga ruang kreatif anak muda.

“Pada akhirnya, Ka Pusagaikat bukan hanya tentang kembali kepada sagu, tetapi tentang kembali mengenali pengetahuan yang tumbuh bersama sagu,” kata Srikandi.

Ketika anak-anak belajar tentang budaya, tambahnya, remaja mengekspresikannya melalui seni, masyarakat mengolahnya menjadi pangan, dan pelaku kreatif melihatnya sebagai sumber gagasan baru, sagu tidak lagi sekadar menjadi bagian dari masa lalu.

Ia menjadi bagian dari percakapan tentang masa depan kebudayaan Mentawai.

Terima Kasih Kepada Sejumlah Pihak

Atas nama Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia, Srikandi Putri menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung pelaksanaan Musinuruk Ka Simaeruk #3 – Festival Ka Pusagaikat 2026.

“Khususnya masyarakat Desa Maileppet, Indigenous Education Foundation (IEF), Kandui Foundation, Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Radio Republik Indonesia (RRI) Padang, Gurui Kabei (Tato Mentawai), IndonesiAsia (Sablon Baju), Uggla.id, dan Komunitas Seni Nan Tumpah.

Kemudian Moile-Moile Travel Mentawai, Ekspedisi Hitam Putih Mentawai, Abang Adek (Convesia Percetakan), Cerita Mentawai, Tatoga Tourism, SINURUK.ID, serta seluruh dinas dan instansi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.

“Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadirkan ruang bersama bagi masyarakat untuk merayakan, mengenali, dan menghidupkan kembali kekayaan budaya, serta pangan lokal Mentawai,” kata Srikandi melalui siaran pers yang diterima Uggla.id. (Uggla.id)

Baca Juga

Mentawai
Deforetasi dan Konflik Sosial Akibat SIPUHH di Mentawai
Sikerei
Melihat Pengangkatan Sikerei Baru di Matotonan
Uma Jaraik
Uma Jaraik Sikerei Mentawai Gelar Workshop dan Festival Turuk Laggai
sagu
Kembali Mengenal Sagu dan Akar Kehidupan Mentawai Melalui Festival Ka Pusagaikat
Festival
Pangan Lokal, Seni Budaya, dan Pemutaran Film di Festival Ka Pussagaikat
UNP
Mahasiswa UNP Tuntas Lakukan Riset di Hutan Nagari Tanjung Bonai Aur, Sijunjung