Oleh: Yohanes Irman
FESTIVAL Pesona Mentawai dan perayaan Hari Ulang Tahun ke-27 Kabupaten Kepulauan Mentawai memberikan kesan tersendiri bagi saya. Kagiatan yang dipusatkan di Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara pada 8-10 Oktober 2026, itu berlangsung sangat baik dan meriah, meski di tengah berbagai keterbatasan yang mungkin dihadapi panitia.
Acara itu memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan apa yang mereka miliki. Produk lokal mendapat tempat untuk dipromosikan, pelaku UMKM memperoleh kesempatan untuk berjualan, sedangkan kesenian dan kebudayaan Mentawai kembali mendapatkan panggung.
Melalui panggung itu, budaya Mentawai memiliki kesempatan dikenal lebih luas. Turuk laggai, seni tato Mentawai, tari kreasi, dan lagu-lagu Mentawai turut memperlihatkan bahwa Mentawai memiliki kekayaan budaya yang layak dibanggakan.
Bagi saya, ini salah satu hal baik dari sebuah perayaan. Bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka kesempatan bagi potensi lokal untuk tumbuh.
Pengalaman Kecil Menjual Babi Salai
Saya mencoba mengambil bagian dengan memperkenalkan salah satu kuliner khas Mentawai, yaitu babi salai.
Saya menjual daging babi salai dalam bentuk aslinya, sekaligus mencoba mengembangkannya menjadi beberapa menu, seperti sup babi salai dan babi salai bakar. Hasilnya di luar dugaan saya. Permintaan cukup tinggi, bahkan beberapa kali saya tidak mampu memenuhi seluruh pesanan karena keterbatasan persediaan.
Sebagian besar permintaan juga datang dari orang-orang yang ingin membawa babi salai sebagai oleh-oleh. Pengalaman ini membuat saya melihat bahwa kuliner khas Mentawai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk sebagai produk yang dapat dibawa pulang dan dinikmati setelah perjalanan selesai.

Ada satu pengalaman yang membuat saya merasa bangga. Bupati Mentawai Pak Rinto Wardana sempat mencicipi babi salai original, tanpa bumbu. Beliau bahkan meminta potongan kedua dengan ukuran yang agak besar dan memilih bagian yang memiliki sedikit lemak. Mereka juga memesan babi salai untuk oleh-oleh.
Ketua DPRD Kabupaten Mentawai, beberapa kepala dinas, pegawai, anggota dewan, dan masyarakat turut datang untuk mencicipi dan membeli kuliner babi salai yang saya sediakan.
Saya merasa senang karena babi salai kuliner khas Mentawai mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk diperkenalkan kepada lebih banyak orang.
Saya menyiapkan babi salai ini di uma orang tua saya di Bekemen, Bojakan dari babi peliharaan bapak saya. Kami membuat daging babi salai dari seekor babi, dagingnya disalai di atas api selama sehari, sehngga lemaknya tinggal sedikit dan ada aroma asap, rasanya juga gurih.
Daging salai itu saya bawa ke Sikabaluan di stan Bojakan di arena Festival Pesona Mentawai, tetapi adalah waktu sebentar sudah habis dibeli pengunjung.
Akhirnya saya kembali lagi ke Bojakan dan lanjut membuat salai babi di Belemen, saya minta pada bapak saya kali ini membuat daging salai dari dua ekor babi yang beratnya sekitar 100 kg.
Daging salai itu saya bawa lagi ke Sikabaluan dan dijual menjadi aneka kuliner dari salai babi. Peminatnya banyak, dalam waktu singkat habis terjual.

Dari pengalaman sederhana itu, saya belajar bahwa ketika sebuah kesempatan terbuka manfaatnya bisa dirasakan lebih dari satu pihak.
Namun, di balik pengalaman yang menggembirakan itu, ada satu pikiran yang terus muncul dalam benak saya.
Seandainya saya memiliki modal yang cukup atau ada dukungan permodalan yang memungkinkan, saya ingin melanjutkan usaha kuliner salai babi ini setelah festival berakhir.
Saya melihat peluangnya. Saya sudah mencoba produknya dan merasakan respon pembeli. Akan tetapi, keinginan untuk mengembangkan usaha saja tidak selalu cukup ketika kemampuan modal masih terbatas.
Pengalaman pribadi ini membuat saya semakin menyadari bahwa potensi lokal bukan hanya membutuhkan kesempatan untuk tampil, tetapi juga membutuhkan jalan agar bisa berkembang secara berkelanjutan.
Potensi yang Perlu Dijaga Setelah Festival
Saya tidak sedang mengatakan bahwa festival ini memiliki kekurangan. Justru, saya melihatnya sebagai momentum yang sangat baik. Harapan saya sederhana: semoga kesempatan yang telah terbuka selama acara tidak berhenti ketika panggung dibongkar dan para peserta kembali ke tempat masing-masing.
Kerajinan lokal, kuliner khas, kesenian, dan berbagai kreativitas masyarakat Mentawai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah.
Kita memiliki produk dan orang-orang yang berbakat, serta mempunyai sumber daya untuk dikembangkan. Menurut saya, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam proses ini. Perhatian terhadap potensi lokal kiranya dapat dilanjutkan melalui program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha dan pelaku seni.
Bentuk dukungan itu tentu dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah, baik melalui pengembangan keterampilan, pendampingan usaha, perluasan akses pasar, maupun dukungan permodalan yang tepat sasaran.

Saya membayangkan suatu saat kuliner khas Mentawai tidak hanya ramai dicari ketika festival berlangsung. Kerajinan lokal tidak hanya dipajang saat ada pameran. Begitu pula kesenian Mentawai, yang tidak hanya mendapatkan panggung pada acara-acara tertentu, tetapi juga memiliki kesempatan untuk terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi orang-orang yang menjaganya.
Memasuki usia ke-27, saya berharap Kabupaten Kepulauan Mentawai tidak hanya semakin meriah dalam perayaan, tetapi juga semakin kuat dalam membangun masa depannya. Saya bangga menjadi bagian dari daerah yang memiliki begitu banyak keunikan.
Setiap wilayah memiliki cerita, bahasa, tradisi, kesenian, dan kuliner yang memperkaya identitas Mentawai. Kekayaan ini bukan sekadar warisan yang patut dikenang, melainkan juga potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Saya berharap momentum ini menjadi salah satu titik awal bagi kebangkitan ekonomi yang bertumpu pada kekuatan kebudayaan lokal.
Saya juga berharap pembangunan Mentawai dapat terus bergerak secara merata, baik dalam bidang ekonomi maupun infrastruktur, hingga menjangkau masyarakat di pelosok Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Sebab, kebanggaan terhadap daerah tidak hanya tumbuh ketika kita menyaksikan sebuah perayaan yang meriah. Kebanggaan itu juga tumbuh ketika masyarakat di berbagai wilayah merasakan kesempatan yang lebih baik untuk berkembang, menjalankan usaha, mengakses kebutuhan dasar, dan membangun masa depan.
Bagi saya, kemajuan Mentawai bukan hanya tentang apa yang terlihat di pusat kegiatan atau di panggung perayaan. Kemajuan juga berarti terbukanya kesempatan bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat keramaian untuk ikut merasakan manfaat pembangunan.
Tentu, semua itu membutuhkan proses, perencanaan, kerja sama, dan komitmen yang berkelanjutan.
Saya menulis ini bukan sebagai orang yang merasa paling memahami persoalan Mentawai. Saya hanya ingin menyampaikan pandangan pribadi berdasarkan apa yang saya lihat, saya alami, dan saya harapkan.
Pengalaman pribadi ini membuat saya semakin menyadari bahwa potensi lokal bukan hanya membutuhkan kesempatan untuk tampil, tetapi juga membutuhkan jalan agar bisa berkembang secara berkelanjutan.
Selamat ulang tahun ke-27 Kabupaten Kepulauan Mentawai. (*)











