KOMUNITAS anak muda di Siberut yang tergabung dalam ‘Sinuruk Mattaoi Indonesia’ kembali menggelar Festival Musinuruk Ka Simeruk di Desa Maileppet, Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai pada 24–29 Agustus 2026.
Festival tahunan ini digelar sejak 2024 dengan tema berbeda. Tahun ini, untuk festival ketiga, mengusung tema “Ka Pusagaiat” atau “Bersagu”. Tahun lalu, 2025, festival mengusung tema “Musinuruk ka bagat punen laggai Desa Maileppet” (Bersama melangkah dalam ulang tahun Desa Maileppet). Sedangkan nama festival “Musinuruk Ka Simeruk” memiliki arti, “Bersama melangkah menuju masa depan dengan budaya sebagai akar”.
Ketua Sinuruk Mattaoi Indonesia Sarno Cependi Samalaippet mengatakan, tema “bersagu” dipilih karena berangkat dari kegelisahan anak muda Mentawai di Siberut yang tergabung dalam Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia melihat sagu mulai dilupakan.
“Kami ingin membangkitkan sagu, kembali melihat sagu bukan sekadar bahan pangan, tetapi sebagai bagian penting dari identitas, pengetahuan, kehidupan sosial, dan masa depan masyarakat Mentawai,” kata Sarno Cependi melalui siaran pers yang diterima Uggla.id, Senin, 17 Agustus 2026.
Bagi masyarakat Mentawai, kata Sarno, sagu telah menjadi bagian dari kehidupan sejak generasi terdahulu. Pengetahuan mengenai pemilihan pohon, pengolahan, hingga pemanfaatannya sebagai pangan diwariskan melalui praktik sehari-hari.
“Namun perubahan pola konsumsi dan semakin kuatnya ketergantungan terhadap pangan dari luar daerah membuat keberadaan sagu dilupakan,” ujarnya.
Melalui Festival Ka Pusagaiat, kata Sarno, Komunitas Sinuruk Mattaoi Indonesia ingin kembali membicarakan, mempraktikkan, dan merayakan pengetahuan tentang sagu bersama masyarakat.
“Sagu tumbuh di tanah Mentawai, tetapi pengetahuan tentangnya hanya akan terus hidup apabila diwariskan, dipraktikkan, dan diberi ruang untuk berkembang,” katanya.

Pameran Foto dan Lomba Memasak Sagu
Sekretaris Sinuruk Mattaoi Indonesia Srikandi Putri mengatakan kegiatan Festival Ka Pusagaiat 2026 akan diisi beberapa kegiatan, seperti pameran foto dan karya seni, lomba memasak sagu kuliner khas Mentawai, serta lomba memasak sagu olahan baru dengan pilihan menu onde-onde sagu dan puding sagu gula aren.
“Kami tidak ingin sagu hanya dibicarakan sebagai sesuatu dari masa lalu. Kami ingin melihat bagaimana sagu tetap hidup, dikenal, diolah, dikembangkan, dan dibanggakan oleh generasi hari ini,” ujar Srikandi yang akrab dipanggil Cici.
Selain itu, pada festival ini juga diadakan lomba mewarnai tentang sagu untuk anak-anak. Ada dua kategori lomba mewarnai, yaitu untuk anak usia 4–7 tahun dan 8–12 tahun.
Kemudian generasi muda, siswa SMP dan SMA sederajat, dilibatkan dalam Lomba Teater Cerita Sagu tingkat Kabupaten Kepulauan Mentawai.
“Cerita mengenai sagu akan menjadi sumber inspirasi bagi peserta untuk menerjemahkan pengetahuan dan pengalaman lokal ke dalam seni pertunjukan,” kata Cici.
Pada festival ini juga digelar Lomba Turuk Laggai tingkat Kabupaten Kepulauan Mentawai. Lomba ini sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenal, menampilkan, dan merawat seni pertunjukan tradisi Mentawai.
Festival juga menghadirkan dua workshop, yaitu Workshop Tato Mentawai dan Workshop Membuat Gelang Letcu. Selain itu juga ada Seminar Nasional Turuk Laggai Bersama Sikerei. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan nonton bareng film Mentawai dan selama festival juga berlangsung bazar UMKM.
Bagi Komunitas Sinuruk Mattaoi, kata Cici, Festival Musinuruk Ka Simaeruk bukan sekadar agenda tahunan.
“Festival ini merupakan ruang untuk mempertemukan masyarakat, seniman, generasi muda, pelaku UMKM, pendidik, budayawan, dan berbagai pihak dalam satu ruang. Karena itu, kami mengundang masyarakat di Mentawai untuk hadir dan menjadi bagian dari Musinuruk Ka Simaeruk,” ujarnya. (Uggla.id)











